Kamis, 19 Februari 2009

Masuknya Islam Ke jawa

Masuknya Islam Ke jawa

Kami telah mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Jawa pada tahun 30 H (650 M) di zaman Khalifah Usman bin Affan.

Sulaiman as-Sirafi, pengelana dan pedagang dari pelabuhan Siraf di Teluk Persi mengatakan bahwa di Sili terdapat beberapa orang Islam pada masa dia, yaitu sekurang-kurangnya pada akhir abad ke-2 Hijriah. Hal ini sesuatu yang telah pasti dan tidak butuh pen-tahqiq-an lagi karena perdagangan rempah-rempah dan wangi-wangian yang berasal dari Kepulauan Maluku pasti membuat pedagang-pedagang Muslimin sering berkunjung ke sana dan ke tempat-tempat yang berdekatan dengan kepulauan ini. Menurut pengarang buku Nukhbah ad-Dahr, Kepulauan Sila adalah Sulawesi dan pulau-pulau yang berdekatan dengannya. Lautnya disebut Laut Sala. Demikian pula yang diterangkan oleh Sir Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java.

Hubungan antara negeri-negeri Arab dengan kepulauan ini berlangsung sebelum dan sesudah Islam. Bangsa Arab sebelum Islam termasuk di antara pedagang-pedagang yang menerima barang-barang dagangan itu. Banyak kapal mereka yang melintasi lautan tersebut dengan membawa rempah-rempah dan bahan-bahan lainnya yang diperlukan oleh Yunani dan Romawi. Hal ini dikemukakan oleh Syaikh Abu Ali al-Marzuqi al-Asfihani dalam bukunya al-Azminah wa al-Amkinah. Ibn Jarir dalam buku sejarahnya menyebutkan hal itu pada dua tempat. Syaikh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib ad-Dimasyqi yang terkenal dengan nama Syaikh ar-Rabwah dalam bukunya Nukhbah ad-Dahr, setelah menguraikan dengan panjang lebar tentang pulau-pulau Sila, Sala (Sulu), Yaqut, Sabah, dan Alwiyah, serta menjelaskan pulau-pulau yang sekarang dinamakan Filipina, selanjutnya mengatakan:

"Sekelompok Alawiyin telah memasuki pulau-pulau itu di waktu mereka melarikan diri dari golongan Bani Umayyah. Mereka lalu menetap dan berkuasa di sana sampai mati dan dikuburkan di kepulauan itu yang letaknya di sebelah utara lautan ini. Bila seorang asing memasuki kepulauan ini maka ia tidak ingin meninggalkannya walaupun ia tidak hidup dengan mewah".

Ketika menjelaskan tentang negeri Sanf yaitu yang meliputi semua daerah yang terletak sesudah negeri Burma, ia mengatakan sebagai berikut:

"Dakwah Islam telah sampai ke sana di zaman Khalifah Usman. Di sanalah singgah golongan Alawiyin yang lari dari Bani Umayyah dan al-Hajjaj. Mereka menyeberangi Laut Zefti dan tinggal menetap di pulau yang terkenal dengan nama mirela'. menurut keterangan yang disebutkan oleh ad-Dimasyqi berada di Laut Cina. Di tempat lain ia mengatakan, "Sili berada di Laut Zefti Timur."

Syihabuddin Ahmad Abdul-Wahab an-Nuwairi dalam bukunya Nihayah al-Arab, yang ditulis dalam 25 jilid, di halaman 220 jilid pertama mengatakan:

"Di sebelah timur negeri Cina ada enam pulau lagi yang dinamakan Kepulauan Sila. Penduduknya adalah golongan Alawiyin yang datang ke sana karena melarikan diri dari Bani Umayyah."

Sejarawan, Taqiyuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi dalam bukunya al-Khuthath al-Maqriziah, halaman 25 jilid I memberikan keterangan sebagai berikut:

"Di sebelah timur laut ini sesudah Cina ada enam pulau lagi yang terkenal dengan nama Kepulauan Sila di mana telah datang ke sana sejumlah golongan Alawiyin pada permulaan Islam karena mereka takut dibunuh."

Nuruddin Muhammad Aufi, pelancong bangsa Persia, menerangkan:

"Setelah penindasan atas golongan asyraf (para syarif) Alawiyin di masa Daulah Umayyah kian bertambah keras, maka berhijrahlah sebagian di antara mereka itu ke perbatasan Cina. Di sana mereka mendirikan perumahan yang mereka tempati di tepi sungai-sungai. Mereka berdamai dengan kaisar Cina dan tunduk kepada pemerintahnya, sehingga Kaisar memberikan pertolongan kepada mereka." Yang dimaksud oleh pelancong Persia itu dengan nama Cina ialah yang meliputi pulau-pulau Timur Jauh. Demikianlah istilah yang biasa dipakai pada waktu itu, sebagaimana diterangkan oleh penulis Yaqut al-Hamawi dalam bukunya Mujam al-Buldan ketika ia menceritakan tanah Jawa.

Dalam buku Sejarah Tanah Jawa karangan Fruin Mees, jilid 11 halaman 8, dikatakan sebagai berikut:

"Sunan Kalijaga hidup pada abad keenam di Kerajaan Kadilangu, dekat Demak. Di sana terdapat sebuah masjid terkenal yang didirikan pada tahun 874 H (1468 M). Sebelum itu Demak dinamakan Bintara. Di masa itu di sana terdapat masjid yang paling kuno. Sudah semestinya, kaum Muslim ada di sana ketika itu."

Syaikh Abu Ali al-Marzuqi al-Asfihani dalam bukunya al-Azminah wa al-Amkinah yang selesai dikarang pada tahun 453 H (1061 M) mengatakan bahwa pedagang-pedagang India, Sind, dan orang-orang dari Timur dan Barat berkumpul di Sahar di pantai Oman, lalu berlayar ke Daba, kemudian ke Syihir (Syihir Mahrah) dan terus ke Aden.

Hijrah (Perpindahan)

Hijrah telah mengiringi sejarah manusia. Gelombang orang yang hijrah datang berturut-turut selama berabad-abad. Sejarah telah menceritakan hijrah berbagai bangsa dan menetapnya mereka di tempat-tempat yang mereka datangi.

Beberapa kaum telah hijrah karena lari dari kehidupan yang sulit, mencari keselamatan dari ancaman peperangan, atau menyelamatkan diri dari kezaliman-kezaliman, dan mencari tempat-tempat perlindungan sampai mendapatkan tempat menetap yang aman.

Orang-orang yang hijrah kadang-kadang mengalami penderitaan di perjalanan. Mereka tidak diperbolehkan menempati daerah yang mereka dapatkan, sehingga mereka melanjutkan perjalanannya dengan diombang-ambingkan oleh lautan dan daerah kosong tak berpenghuni serta semak belukar. Mereka berharap mendapatkan umat yang memiliki belas kasihan terhadap mereka, sehingga mau menerima mereka dan memberikan tempat tinggal kepada mereka, sehingga mereka dapat menetap di negeri itu di tengah-tengah bangsa yang mulia.

Dalam Perang Dunia II kita menyaksikan di Indonesia gelombang pengungsi yang mencari keamanan. Kita juga menyaksikan apa yang diperbuat oleh perkumpulan Rabithah Alawiyah di Jakarta yang menjadi sandaran bagi Badan Pertolongan Pengunisi. Rabithah Alawiyah memberikan perlindungan kepada lebih dari 29 ribu pengungsi dan mengosongkan madrasah-madrasahnya, Darul-Aitamnya dan rumah-rumah para anggotanya untuk mereka. Pengurus Rabithah juga mengerahkan isteri-isterinya untuk menyediakan makanan bagi para pengungsi tersebut. Dengan para yatimnya dan para pemudanya, Rabithah memberikan pertolongan untuk melayani mereka. Setiap hari mereka dikunjungi oleh dr. Muwardi (terbunuh dalam pertempuran dengan orang-orang Komunis). Rabithah juga menyiapkan para pemuda untuk bergantian menerima dan memberangkatkan mereka.

Akhirnya berdirilah Rabithah 'Alam Islamy di Mekah Al-Mukarramah untuk berperan secara aktif dalam melayani orang-orang yang meminta pertolongan, dari mulai Muslimin Burma sampai Bangladesh yang lari dari tekanan komunis. Rabithah membuatkan untuk mereka tempat-tempat perlindungan, memberikan bantuan kesehatan, dan lain-lain.

Ada juga dari keluarga-keluarga Afghanistan yang masuk ke Pakistan untuk menyelamatkan diri dari serangan komunis terhadap negerinya. Pemerintah Pakistan memberikan perlindungan bagi mereka. Negara-negara Arab yang dermawan juga mengulurkan bantuannya.

Kita juga mengetahui larinya orang-orang Afrika dari kelaparan dan kekeringan yang panjang. Mereka melintasi daratan dan lautan dengan harapan dapat sampai ke suatu daerah di mana mereka menemukan orang yang akan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan.

Kita pun melihat orang-orang Kamboja yang melintasi perbatasan menuju ke Malaysia. Kemudian mereka diberi perlindungan oleh yayasan Perkim yang didirikan oleh Tengku Abdurrahman. Di antara, mereka ada yang pindah ke Amerika di mana mereka diterima oleh perkumpulan Islam.

Ada juga perpindahan karena alasan-alasan pemikiran dan pengetahuan (pengalaman). Selain itu ada pula hijrah yang dilakukan karena tidak mendapatkan lapangan kerja di negerinya. Akibatnya, tanah air mereka menjadi rugi, sedangkan negeri yang mereka datangi mendapatkan keuntungan. Dengan sebab hijrah-hijrah yang seperti ini, negara-negara berkembang mengalami kerugian sekitar 500 ribu orang. Di Amerika, Kanada, dan Eropa saja terdapat lebih dari 75% dari mereka. Negara-negara itu memperoleh keuntungan jutaan dolar dari pengabdian para pendatang tersebut. Sedangkan beberapa negara timur mengalami kekurangan orang karena jumlah orang-orang yang hijrah itu mencapai sekitar 120.000 orang yang memiliki kemampuan dan kemahiran serta para pekerja. Negara-negara maju mengambil hati orang-orang tersebut agar dapat mengambil keuntungan dari mereka.

Kadang-kadang faktor penyebab hijrah adalah keinginan untuk menuntut ilmu atau tinggal di tempat-tempat yang disucikan. Sejak masa lalu banyak orang yang pindah ke Haramain (Mekah dan Madinah). Di kedua kota itu pada masa lalu tidak terdapat kehidupan yang menyenangkan sebagaimana sekarang.

Ada pula perpindahan kitab-kitab, makhthuthah-makhthuthah (karangan-karangan yang masih berupa tulisan tangan), peninggalan-peninggalan, dokumen-dokumen, dan lain-lainnya ke berbagai negeri, atau hilang, atau terbakar api sehingga sejarah kehilangan banyak sumber.

Dahulu Hajjaj bin Yusuf menjadi penyebab hijrahnya berbagai kelompok Muslim karena lari dari kelalimannya. Pada tahun 695 H banyak penduduk Syam yang hijrah untuk melepaskan diri dari kesewenang-wenangannya. Lalu mereka bergabung dengan saudara-saudara mereka kaum Muslim di Afrika Timur. Perpindahan orang-orang Arab ke Afrika Timur membentuk keemiran Islam di Lamo. Pada tahun 729 M sekelompok pengikut Zaidiyah pun hijrah. Karena beberapa kejadian berdarah yang disebabkan oleh golongan Qaramithah dahulu, banyak orang Arab dari negeri-negeri Teluk Arab yang hijrah ke Afrika Timur. Merekalah yang membangun Mogadishu.

Sejarawan, Sayid Idrus dalam kitabnya Bughyah al-Amal fi Tarikh ash-Shomal yang diterbitkan pada tahun 1954 M dan kemuthan dilarang beredar mengatakan bahwa kata Mogadishu disusun dari dua kata maq'ad dan syah atau syaikh, karena mereka menamakan sultannya dengan syaikh. Para muhajirin tersebut membangun kota Kilwah dan Berawah. Ibnu Bathuthah mengatakan bahwa di Kilwah terdapat syarif-syarif dari Hijaz.

Hijrah-hijrah memiliki peranan yang sangat besar dalam penyebaran Islam. Ketika seorang alim selamat dari suatu negeri yang rusak karena berada di bawah tekanan dan kelaliman, dan menuju ke negeri lain di mana ia mendapatkan ketentraman, mulailah ia melakukan dakwah Islamiyah di antara kaum-kaum yang tidak memiliki hubungan dengan Islam. Maka mereka menerima Islam dengan hati yang terbuka dan jiwa yang haus. Ketika telah masuk Islam, mereka mengetahui nilai para dai. Mereka mengukir nama-nama dai itu di buku-buku mereka atau di makam-makamnya sesudah mengukirnya di dalam hati. Jatuhnya Malaka pada tahun 1511 M menyebabkan gelombang besar perpindahan para ulama Muslimin ke Sumatera dan Jawa.1 Perpindahan ini mengakibatkan meningkatnya semangat keagamaan dan dakwah Islamiyah. Kaum Muslim setempat bergabung dengan para dai dan mereka saling bahu membahu.2

Mereka juga hijrah ke Kepulauan Pasifik, di antaranya Fiji, sehingga mereka menjadi bagian terbesar dari penduduknya. Selain itu, mereka juga hijrah ke Eropa dan kemudian menjadi banyak di sana. Melalui mereka, sebagian penduduk Eropa dapat mengenal Islam. Masjid-masjid didirikan, pusat-pusat Islam dibangun, dan madrasah-madrasah pun dibuka. Pemerintah-pemerintah Kristen yang memberikan perlindungan mengakui mereka. Mulailah akidah Islam masuk secara perlahan-lahan di masyarakat. Di Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, New Zealand, dan lain-lain terdapat masyarakat-masyarakat Muslim yang hidup dengan aman.

Dalam kitab al-Yaman min al-Bab al-Khalfi3 diterangkan:

"Daerah Arab Selatan membentuk pelabuhan tempat berdirinya jembatan peradaban dan spiritual yang memanjang dari negeri Arab ke India Islam, dan terus ke Kepulauan Melayu. Ada lagi jembatan lain yang menghubungkan Arab Selatan dengan pantai Afrika, dan dari sana terus masuk ke tengah-tengah benua tersebut. Islam mendapatkan ikatan-ikatan yang kuat yang melebihi batas-batas politik." Dalam majalah Tsaqafah al-Hind disebutkan sebagai berikut:

"Pada awal abad kedelapan al-Hajjaj bin Yusuf menjadi penguasa Irak. Ia seorang yang banyak menumpahkan darah yang sangat dibenci orang, walaupun oleh Muslimin sendiri. Ia mengusir orang-orang Bani Hasyim dari negeri mereka. Lalu mereka dapat hijrah dari negerinya. Sebagian mereka mendarat di pantai barat India yang dinamai Konkan. Sebagian lagi sampai ke timur dari Tanjung Komorin. Keturunan yang disebut pertama dinamakan Niuwantm, sedangkan keturunan yang kedua dinamakan Labin."

Dalam kitab Nuz-hah al-Khawatir karangan Sayid al-'Allamah Abdul-Hayy bin Fakhruddin al-Husaini yang wafat pada tahun 1341 H dijelaskan bahwa orang pertama yang masuk ke India dari kalangan Ahlulbait adalah Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan.

Van den Berg mengatakan tentang pemukiman orang-orang Arab, "Sesungguhnya orang-orang Arab telah sampai ke Aceh sejak dahulu kala dan bercampur dengan penduduk asli di setiap kampung. Sebagian di antara mereka memelihara kepribadian Arabnya."

Di dalam kitab Tarikh al-Alaqat baina al-Hind wa al-Bilad alArabiyah (sejarah hubungan antara India dan negeri Arab) karangan Dr. Muhammad Ismail an-Nadwi halaman 44 ada keterangan sebagai berikut:

"Di antara kabilah Arab yang paling terkenal yang merantau ke India adalah suatu kabilah Bani Hasyim yang merantau ke pesisir barat India. Sebahagian dari mereka mendiami pantai Bombay di daerah Konkan. Sebagian yang lain merantau ke sebelah timur dan dinamakan Labbai. Di daerah ini telah ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah mereka dari abad ke-7 Hijriah (ke-13 Masehi)." Pada hamisy di halaman yang sama, ia mengatakan, "Di antara yang disebutkan adalah bahwa kabilah-kabilah Arab yang merantau ke Sailan (Srilangka) adalah yang dinamakan Labbai dan sebagian besarnya dari Yaman dan Hijaz."

Al-Mas'udi menyebutkan bahwa di Malabar terdapat tidak kurang dari sepuluh ribu orang Arab yang hijrah dari Siraf, Oman, dan lain-lainnya. Ditambah lagi keturunan-keturunan mereka dari ibu wanita-wanita pribumi. Mereka memiliki hubungan dengan tanah air mereka yang asli dan berdagang ke daerah-daerah Timur.

Dalam kitab al-Arab wa al-Mallahahfi at-Muhith al-Hindi ada keterangan sebagai berikut, "Sebelum kekhalifahan Bani Umayyah jatuh (tahun 749 M), sebagian orang Syiah lari dari tekanan di Khurasan dan tinggal di sisi salah satu sungai besar di Cina di hadapan salah satu pelabuhan."

Demikianlah yang diceritakan riwayat-riwayat yang diabadikan bagi kita oleh al-Marwazi (sekitar tahun 1120). Ia menggambarkan bahwa masyarakat pendatang itu masih tetap ada di masa belakangan dan bekerja sebagai perantara dalam perdagangan antara penduduk negeri Cina dan orang-orang asing.4 la juga menjelaskan bahwa sekelompok orang dari Persi, yaitu Syiraz dan Siraf telah hijrah pada abad kesembilan dan kesepuluh. Maka Jeddah pun menjadi pusat perdagangan antara Mesir dan Lautan Hindia, dan juga perdagangan dengan Persi.

Kaum Muslim tetap menjadi pemuka perdagangan dan pelayaran di Lautan Hindia hingga orang-orang Portugal dapat sampai ke lautan ini. Vasco de Gama sampai ke Malindi di mana ia bertemu dengan Ahmad bin Majid. Sampainya mereka (orang-orang Portugal) dan bangsa-bangsa lainnya benar-benar bertujuan untuk melemahkan pelayaran Arab dan meruntuhkannya sehingga baratlah yang menjadi penguasanya.

Kaum Alawiyin yang pertama hijrah dari bani al-Ahdal dan bani Qadim adalah dari Irak ke Yaman dan ke Hadhramaut dan tinggal didaerah itu. Kemudian dari tahun ke tahun mereka menyebar di berbagai belahan dunia. Berbagai sumber menyebutkan banyak hal yang berkaitan dengan keluarga-keluarga ini. Di antara keterangan yang terdapat dalam kitab Dairah Maarif al-Bustani adalah sebagai berikut: "Al-Ahdal adalah sebuah keluarga Yaman yang nasabnya sampai kepada Ali bin Abi Thalib. Datuk mereka, Muhammad Sulaiman datang dari Irak pada akhir tahun 340 H (951 M) dan tinggal di kampung al-Murawa'ah. Kemudian keturunannya menyebar hingga sebagian mereka menetap di Wadi as-Siham, al-Fakhriyah, Zubaid, dan Abyat Husain. Dan sebagian di antara, mereka pindah ke Hadhramaut.5 Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Shahabuddin menyebutkan bahwa awal abad ke sepuluh adalah masa peperangan, perampasan, dan banyak lagi hal-hal lain yang menyebabkan orang Hadhramaut merantau dari negerinya untuk berjuang dan mempertahankan diri. Ketika itu, jiwa peperangan ada dalam diri mereka. Negeri Hadhramaut pun terbagi menjadi dua bagian, di mana dua kabilah terkenal saling berselisih. Serang menyerang di antara mereka terus berlangsung. Salah satu kabilah menerima bantuan dari Amir Turki di Tihamah, sedangkan kabilah yang lain dibantu oleh Imam Yaman. Kabilah-kabilah yang lain terpecah menjadi dua kelompok: kelompok yang satu mendukung kabilah ini, sedangkan kelompok yang lain mendukung kabilah yang lain. Keadaan demikian terus berlangsung selama sekitar 120 tahun dan berakhir dengan keluarnya pasukan Imam Yaman pada tahun 1069 H. Lalu Imam mendamaikan kedua kabilah itu dan menentukan batas-batas wilayah keduanya.

Orang-orang Portugal mulai menyerang pantai-pantai Hadhramaut pada awal abad kesepuluh. Armada-armada mereka mengarungi lautan dari pantai-pantai India ke pantai-pantai Afrika, terus ke pantai-pantai Hadhramaut. Laut ini (laut yang mereka arungi) merupakan tempat lalu lalangnya orang Hadhramaut. Kapal-kapal Hadhramaut dan al-Mahrah seringkali berpapasan dengan kapal-kapal Portugal dan terjadi peperangan yang dahsyat antara mereka. Bila penduduk asySyihr (di pesisir Hadhramaut) memberikan peringatan atas datangnya armada-armada Portugal, mereka mengirim orang yang meminta bantuan ke daerah pedalaman, sehingga para ahli ilmu berlombalomba untuk melaksanakan kewajiban jihad, kemudian diikuti oleh orangorang awam. Maka berkumpullah di sana berbagai kelompok sampai armada-armada musuh dapat terhalau."

Kemudian ia mengatakan:

"Kehidupan mereka yang sulit semakin bertambah dengan adanya paceklik yang terjadi pada tahun 945 H sampai-sampai mereka memakan kulit. Juga terjadi banjir yang sangat besar pada tahun 939 H. Banjir itu menghancurkan kebun-kebun kurma dan tanah mereka, hingga tidak ada yang tersisa kecuali hanya sedikit. Bencana itu menimbulkan kerusakan yang sangat besar di Hadhramaut bagian selatan." Kejadian-kejadian ini semakin menambah keinginan untuk mengadakan perjalanan dan berusaha di berbagai negeri. Selain itu juga menambah kebencian kepada orang-orang Portugal yang menghalangi perjalanannya. Mereka pun bertekad untuk menentang dan mengusir orang-orang Portugal. Mereka langsung bergabung jika mendengar ada orang yang menentang Portugal; dan setiap kali Portugal menduduki suatu negeri, mereka pun mengusirnya karena benci kepada mereka.

Hijrah-hijrah ke berbagai daerah terjadi dengan gencar pada akhir-akhir abad ke sepuluh dan sesudahnya, sampai-sampai beberapa keluarga (kabilah) pindah seluruhnya. Tidak ada keluarga yang sebagian besar anggotanya tidak pindah. Beberapa keluarga bahkan telah hijrah 90% nya.

Hijrah telah mencerabut dan memisahkan mereka. Sehingga, sekelompok orang dari kabilah tertentu ada di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sedangkan sekelompok lain dari kabilah itu berada di Madagaskar, Kepulauan Komoro, Afrika Timur, dan sebagainya. Keluarga al-Aydrus misalnya, terpencar-pencar pada lebih dari 35 negeri. Begitu juga keluarga Syaikh Ali bin Abubakar as-Sakran, keluarga Ahmad bin Abubakar as-Sakran, dan seterusnya.

Beberapa keluarga telah hijrah dan telah benar-benar terputus dari Hadhramaut. Sekarang keluarga-keluarga itu berada di negeri-negeri lain. Dr. Muhammad Bahjat al-Misri dalam artikelnya di surat kabar al-Ahram6 menyebutkan bahwa belum dapat ditentukan secara tepat sejarah awal hubungan Islam dengan India. Menurut pendapat yang kuat, hubungan itu berlangsung pada akhir-akhir abad ketujuh Masehi dengan perantaraan para pedagang Arab yang singgah di pantai-pantai barat India, khususnya pantai Malabar dan Gujarat. Mereka disambut dengan hangat oleh para penguasa negeri-negeri itu karena mereka menjadi kaya dengan sebab berdagang dengan orang-orang Arab. Para penguasa itu juga mengizinkan mereka untuk membangun masjid-masjid dan mendirikan syiar-syiar agama. Orang-orang Arab Muslim tidak harus bersusah payah untuk memasuki negeri-negeri itu.

Dengan cara seperti inilah Islam masuk ke pulau-pulau di daerah timur. Di antara hal yang menunjukkan telah lamanya Islam masuk ke Jawa adalah adanya kuburan-kuburan kuno, di antaranya kuburan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di dekat Leran, Gresik. Di atas nisannya terdapat tulisan-tulisan Kufi. Tahun wafatnya adalah tahun 475 H atau 495 H (1083 M atau 1101 M). Prof. Stoterheim meyakini kemungkinan wanita itu sebagai istri seorang pedagang Arab, tetapi Prof. Maquette, ahli arkeologi yakin bahwa la wanita Arab dari Yaman dan boleh jadi nisan yang terdapat pada makamnya didatangkan dari negerinya atau dibawa oleh orang-orang Hadhramaut setelah itu. Jika nisan itu didatangkan, maka itu merupakan bukti adanya masyarakat pendatang Muslim Yaman. Namun Jika dibuat di tempat itu sendiri, maka itu bukti adanya masyarakat Islam yang besar.

Paul R mengatakan dalam buku Inscription Conflique de Leran bahwa nisan itu dibuat di sana dan pembuatnya adalah orang-orang Arab atau Persia yang berlayar jauh dari negerinya. Ia juga yakin bahwa orang-orang Muslim telah menetap di sana.

Dr. Hamka mengatakan, "Sesungguhnya sumber-sumber Cina menyebutkan bahwa orang-orang Arab termasuk penyebar Islam pertama yang sampai ke Kepulauan Melayu di abad ke-7 Masehi (abad pertama Hijriah)."7

Tempat-tempat Hijrah Mereka

Al-Ustadz Abdul-Mun'im an-Namr dalam buku Sejarah Islam di India halaman 64 mengatakan, "Kita sekarang melihat bekas-bekas Arab di Malabar yang menggambarkan keluarga-keluarga yang asalnya dari Arab."

Kita juga mendapati keturunan Isa al-Akbar bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far ash-Shadiq, yaitu keturunan Sayid Ahmad bin Isa dan saudara-saudaranya yang tersebar di berbagai daerah: di Isfahan, Qum, Syiraz, dan di Irak.

Donald Maclain Campbell dalam bukunya Java halaman 5758 mengatakan, "Orang-orang Arab dan Persi bekerja sama dalam mendirikan (?) Kerajaan Majapahit. Mereka juga telah memiliki pemukiman-pemukiman sejak dulu di Sumatera Barat."

Gresik dan Madura merupakan tempat-tempat untuk memperbaiki kapal-kapal mereka jika mengalami kerusakan, dan untuk memuat barang-barang dagangan dan perbekalan mereka. Mereka juga bersekutu dalam mendirikan kerajaan Jenggala, Daha, dan Singasari. Orang-orang Arab dan Persi tinggal di daerah-daerah ini. Bukti yang telah ditemukan pada makam Fatimah binti Maimun di Leran yang bertuliskan tahun 495 H (1101 M) menunjukkan bahwa orang-orang Muslim telah ada sekitar empat ratus tahun sebelum berdirinya Kerajaan Islam Demak.

Sekarang kita dapat melihat keturunan Arab di berbagai belahan dunia: di Afrika Timur, Afrika Barat, Afrika. Selatan, pulau-pulau di Kepulauan Lautan Teduh, Sind, Burma, Iran, Bukhara, Turkistan, Thailand, pulau-pulau di daerah timur, Turki, dan lain-lain.

Ulama-ulama dan orang-orang terkemuka dari mereka memiliki kedudukan di tempat-tempat hijrahnya. Di tempat-tempat itu mereka terkenal karena perbuatan-perbuatan baiknya bagi masyarakat dan bagi tokoh-tokoh negara Islam, sehingga mereka dimuliakan oleh para. sultan, para pangeran, dan rakyat. Di India, Sultan Kharam berhubungan dengan Sayid Abubakar bin Ahmad bin Husein al-Aydrus yang wafat di Kerajaan Abad tahun 1048 H. Sedangkan Raja Anbar berhubungan dengan Abubakar bin Husein bin Abdurrahman dari keluarga Ahmad bin al-Faqih Muqaddam. Sultan Bijapur, Sultan Mahmud Syah bin Sultan Adil Syah juga berhubungan dengannya dan menjadikannya salah seorang teman dekatnya. Sayid ini seorang yang mulia dan tempat berlindung bagi orang-orang yang datang. Sayid Ali bin Alwi bin Muhammad al-Haddad adalah seorang petunjuk dan seorang penasihat Raja Anbar. Raja Anbar juga berhubungan dengan Sayid Ja'far ash-Sh'adiq bin Zainal Abidin al-Aydrus (997-1064 M) di kerajaan Abad. Sayid ini memimpin pengajaran di Deccan. Ia mengajar bahasa Persi, dan menerjemahkan kitab al-Iqd an-Nabawi ke bahasa itu. Ia juga berhubungan dengan Sultan Burhan Nizham Syah. Kebanyakan mereka (para Saadah) memiliki kedudukan di kalangan Sultan Haiderabad dan lain-lain. Namun tempat ini tidak cukup untuk menyebutkan mereka semua. Di setiap daerah di India, pulau-pulau di daerah timur, Cina, Thailand, dan lain-lain terdapat keturunan-keturunan dari keluarga al-Gadri, al-Muthahhar, al-Haddad, Basyaiban, Khaneman, al-Aydrus, al-Aththas, Shahabuddin, Syaikhbubakar bin Salim, as-Seggaf, Bafaqih, Jamalullail, al-Habsyi, asy-Syathiri, al-Baidh, al-Ahdal, al-Mahdali, Baraqbah, Aidid, al-Jufri, dan lain-lainnya. Sedangkan dari keluarga-keluarga Arab yang bukan Alawiyin kita dapati keluarga-keluarga al-Amudi, Bafadhal, al-Khatib, Bawazir, bin Sumair, Arfan, az-Zubaidi, Bahanan, Makhramah, asy-Syibli, Nabhan, Syarahil, Zughaifan, ash-Shabban, Bajabir, Baswedan, dan banyak lagi yang lainnya.

Di antara Alawiyin yaqg hijrah ke India adalah seorang sayid yang alim, Abdullah bin Husein bin Muhammad Bafaqih yang hijrah ke kota Kanur dan menikah dengan putri Wazir Abdul Wahhab serta menjadi pembantunya sampai wafatnya. Lalu Sayid Muhammad bin Abdullah al-Aydrus, tokoh Ahmadabad dan Surat yang berangkat atas permintaan kakeknya, Syaikh bin Abdullah al-Aydrus. Ketika kakeknya wafat pada tahun 990 H, ia menggantikan kedudukannya dan wafat di Surat tahun 1003 H. Selanjutnya Sayid al-'Allamah Muhammad al-Bagir bin Umar bin Aqil Bahasan Jamalullail yang sering bolak-balik ke daerah-daerah di India. Ia wafat di Tarim tahun 1079 H.

Buku-buku biografi dipenuhi nama-nama orang yang hijrah ke berbagai daerah. Mereka memiliki tempat menetap. Demikianlah kita mendapati keluarga-keluarga Arab di berbagai daerah, di mana sebagiannya telah melebur dalam masyarakat dan sebagian lainnya masih dapat dikenali. Apa yang kami sebutkan hanyalah sebagai contoh saja, bukan untuk menyebutkan semuanya.

Ustadz Muhammad bin Abdul-Qadir Bamuthrif memiliki karangan tentang hijrahnya orang-orang Yaman. Dalam kitab itu ia menyebutkan tempat-tempat asal orang-orang Yaman Selatan yang merantau ke Afrika, sebab-sebab hijrah sebelum Islam, dan sebab-sebab hijrah pada masa Islam ketika para Saadah pergi untuk berjihad dan menyebar di berbagai daerah.

Kemudian ia menyebut seorang orientalis Belanda Dr. Snouck Hurgronje (tentang pembahasan yang ia persiapkan sekitar tahun 1885 M dan diterbitkan di Leiden tahun 1931 M tentang orang-orang Hadhramaut di Hijaz, baik para ulamanya atau para pedagangnya).

Dalam laporan yang diterbitkan oleh pemerintah Inggris tahun 1930 M disebutkan bahwa jumlah orang Hadhramaut di Hijaz lima ribu orang. Buruknya kondisi perekonomian pada masa itu membuat banyak di antara mereka yang hijrah ke Jawa, Mushawwa, dan Mogadishu. Sebagian orang Hadhramaut memegang pekerjaan-pekerjaan resmi sejak masa pemerintahan para syarif. Pada masa pemerintahan as-Saudi yang pertama, orang-orang Hadhramaut diundang ke majelis raja sebagai para penasihat. Jumlah orang Hadhramaut di Mekah dan Jeddah mencapai sepuluh ribu orang.

Di antara sebab-sebab hijrah yang disebutkan oleh laporan itu adalah perdagangan, kelaparan, dan fitnah. Disebutkan bahwa mereka memiliki kapal-kapal layar dan dengan kapal-kapal itu mereka sampai ke Timur Jauh. Orang-orang Hadhramaut telah mencapai puncak kebesaran dalam bidang pelayaran antara tahun 1845 M sampai tahun 1855 H. Aktivitas muhajirin (orang-orang yang hijrah) bukan dalam bidang perdagangan dan industri saja, melainkan juga merambah bidang dakwah Islam ketika mereka telah menetap di Asia Tenggara, Afrika, Timur, dan Afrika Selatan.

Dalam sejarah telah disebutkan secara pasti bahwa orang-orang Portugal merebut daerah Mozambik dari orang-orang Yaman Selatan, dan pelabuhan Safalah merupakan pusat kekuasaan mereka. Sesungguhnya orang-orang Yaman Selatanlah yang semula menguasai Kepulauan Komoro dan mereka juga yang menciptakan keramaian di sana. Mereka yang menamai kepulauan itu dengan nama Komoro (al-Qomar) yang artinya kepulauan yang putih bersinar bagaikan bulan. Mereka juga menamai Nagr untuk suatu tempat yang dikenal dengan nama Natal di Afrika Selatan dan juga memberikan nama al-Buhairah untuk pelabuhan Mozambik. Lalu orang-orang Portugal mengubahnya menjadi Beira.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa orang-orang Hadhramaut yang hijrah adalah sebagai berikut:

Di Indonesia 71.335 orang, di Malaysia dan Singapura 3000 orang, di India 10.000 orang, di Afrika Timur 12.000 orang, di Somalia dan Ethiopia 2.000 orang, di Sudan 750 orang, dan di Mesir 18 orang. Jumlah keseluruhannya 99.103 orang. Para pedagang setempat memperkirakan bahwa uang yang mereka kirim ke Hadhramaut sekitar 800.000 Jeneh, di antaranya 700.000 Jeneh dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Sekarang mereka berada di tempat-tempat hijrah yang menyelamatkan mereka dari kehidupan yang susah dan dari keadaan yang tidak aman. Di sana mereka mendapati kehidupan yang tentram dan menyenangkan, tempat yang baik, dan pekerjaan yang teratur di bawah naungan undang-undang yang pasti. Mereka saling tolong menolong dalam perdagangan, saling bertoleransi, dan saling menanggung kecuali pada beberapa masa. Sebab-sebab tersebut di atas masih ada sampai sekarang dan keadaannya masih tetap demikian. Ketergantungan kepada negeri luar masih seperti sebelumnya.

Karena sebab-sebab ini, keluarga-keluarga yang semula berada di Hadhramaut menjadi terputus dari tanah airnya, sehingga di Hadhramaut tidak terdapat lagi misalnya, keluarga Abdul-Malik, keluarga al-Qadri, keluarga Bafaraj, dan keluarga Khaneman. Hijrah ini berhenti setelah Perang Dunia 11. Kemudian hijrah mengarah ke Jazirah Arab. Jadi masalahnya tetap demikian, yaitu bergantung kepada negeri luar.

Perpindahan dari Yaman Selatan, khususnya dari Hadhramaut, telah menghabiskan sejumlah besar penduduknya. Negeri ini tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan para penduduknya, sedangkan jumlah mereka semakin banyak, generasi demi generasi. Mereka pergi berkelompok-kelompok dan berkelana ke berbagai daerah. Mereka menempati tempat-tempat yang memiliki keamanan dan kehidupan yang tenang. Sebagian besar orang yang hijrah dari Arab Selatan adalah para pemuda. Sedangkan orang-orang tua, anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang yang lemah biasanya mencukupi kebutuhan mereka dari pemberian orang-orang yang hijrah di negeri asing, baik anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka. Harta datang kepada mereka dari luar secara terus menerus, tetapi itu tidak dapat membawa kepada pertumbuhan negeri itu, karena tenaga-tenaga yang giat (produktif) telah hijrah. Sehingga, harta yang datang kepada mereka tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya, karena harta itu datang untuk pergi lagi, yaitu untuk mendatangkan kebutuhan-kebutuhan mereka dari luar. Hal itu karena tidak disertai dengan usaha-usaha pengembangan yang memadai.

Keadaan ini tidak hanya di daerah Arab Selatan saja. Sejumlah negara Arab juga keadaannya demikian dengan sedikit perbedaan. Jika dari daerah-daerah itu jumlah orang-orang yang hijrah mencapai ratusan, maka dari Hadhramaut jumlah orang-orang yang hijrah mencapai ribuan. Di tempat-tempat mereka hijrah, mereka memiliki ratusan ribu keturunan. Jika uang yang datang ke negeri-negeri Arab yang lain sebagiannya digunakan untuk pertanian, maka pertanian di Arab Selatan justru mengalami kemunduran. Demikian juga kemakmurannya. Daerah-daerah pertanian mulai menyusut.

Hijrah-hijrah yang terakhir ke negeri-negeri minyak memberikan keuntungan bagi daerah-daerah Arab yang menerimanya sebagaimana juga memberikan manfaat bagi orang-orang yang hijrah itu sendiri. Tetapi hal itu merugikan tanah air yang mereka tinggalkan yang kemudian menjadi bertambah sengsara dan tidak dapat mengambil manfaat dari harta yang dikirimkan kepada keluarga-keluarga di sana. Sekarang kita mendapati keturunan Hasan dan keturunan Husein di setiap daerah di muka bumi, terutama di daerah-daerah Islam dari Barat Jauh sampai Timur Jauh, di bagian utara dan di Asia Tengah, di Turki dari Istambul sampai Ankara, Ialu ke selatan di Suriah Utara, juga di pelosok-pelosok Eropa dan Amerika.

Pembauran

Hijrahnya orang-orang Arab dan kaum Muslim pada umumnya menyebabkan mereka tersebar di berbagai daerah di muka bumi. Mereka berkelana ke tempat-tempat yang jauh dan mendiaminya dalam waktu yang lama. Setelah masa berlalu dan zaman berganti, mereka pun berbaur dalam lingkungan-lingkungan yang mereka tempati dan melebur dalam masyarakatnya.

Lingkungan mempunyai pengaruh terhadap individu-individunya; zaman memiliki kemampuan mempengaruhi jiwa; corak hidup individu tergantung pada sekelilingnya; tradisi dan adat istiadat memiliki kekuatan. Menurut tabiatnya, manusia memegang teguh sesuatu yang menjadi kebiasaannya. Jadi, semua yang mengelilingi individu mempunyai pengaruh terhadapnya, dan pergantian zaman memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan kemampuan-kemampuan individu.

Keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun, jarang yang dapat melebur dengan cepat. Seseorang mungkin dapat menghancurkan sebuah istana yang megah dengan alat peledak dan dapat membinasakan sebuah pabrik dengan roket seperti yang dilakukan kaum zionis. Tetapi dengan kekuatan yang dimilikinya ia tidak mampu mencabut pemikiran-pemikiran yang telah berkembang pada manusia dan keyakinan-keyakinan yang telah mengakar dengan kuat pada jiwa mereka. Keturunan juga memiliki pengaruh terhadap seseorang. Pengaruh ini merupakan hal yang sudah menjadi tabiat pada semua makhluk hidup.

Sejarah telah menceritakan kepada kita mengenai kaum-kaum yang setelah masa yang lama akhirnya melebur di berbagai masyarakat. Hanya sedikit saja dari manusia yang dapat menjaga tradisinya dan berpegang pada asalu-sulnya sekalipun telah kehilangan sebagian kelebihannya. Jadi, manusia tetap tidak dapat menghilangkan pengaruh zaman dan lingkungan dari dirinya.

Dalam darah kaum Muslim Filipina sekarang terdapat pengaruh yang besar dari darah-darah Arab, khususnya dalam darah keturunan para penguasa dan para pemimpin yang selalu ingat bahwa nenek moyang mereka adalah orang Arab.

Dr. Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda menyebutkan bahwa seorang alim bernama Tuanku Kota Karang yang merupakan musuh terbesar Belanda, yakin dan membela keyakinannya bahwa dalam darah penduduk Aceh terdapat darah Arab, Persi, dan Turki. Ia mengumumkan ini dalam khutbah-khutbahnya dan selebaran-selebarannya yang keras menentang orang-orang Belanda. Muhammad Said, seorang sejarawan mengatakan:

"Orang alim Aceh ini terkenal dengan keilmuannya, keluasan bacaannya, dan keberagamaannya. Ia mempunyai karangan yang banyak yang juga dimiliki oleh para tentara Belanda. Karangankarangannya itu menunjukkan keluasan pengetahuannya mengenai sejarah Muslimin dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Jika benar apa yang dikatakan oleh Snouck Hurgronje maka itu tentu bukan omongan sembarangan, melainkan hasil penelitian dan kajian. Dr. Snouck terkenal tingkat keilmuannya dan itu tidak dapat disangsikan lagi. Ia memiliki karangan-karangan Tuanku Kota Karang dan telah mengkajinya. Karena itu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa apa yang disebutkan oleh Snouck Hurgronje tentang pengaruh Hindu terhadap penduduk hanyalah dimaksudkan untuk menolak pendapat orang alim ini." (Aceh Sepanjang Abad, 1/22)

Nama orang alim ini adalah Tuanku Abbas. Dahulu ia seorang qadhi di Kesultanan Aceh ketika berjuang melawan penjajahan Belanda, dan penasihat seorang pejuang, yaitu Syaikh Samman, panglima pasukan perang.

Asimilasi berlangsung secara bertahap. Jika pada hijrah-hijrah di masa lalu para muhajirin tidak menjalin hubungan perkawinan dengan penduduk setempat maka keturunannya akan tetap jelas asal usulnya. Tetapi sekarang keadaannya tidak demikian.

Dalam sejarah kesultanan-kesultanan kepulauan Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan disebutkan bahwa sultan-sultannya bernasab kepada satu pangkal, yaitu Sayid Ja'far ash-Shadiq yang datang ke sana pada tanggal 10 Muharram 470 H (1080 M).

Sumber-sumber Melayu mengatakan bahwa Sultan Malaka keempat, Tun Ali Sri Nara adalah anak salah seorang Ratu Pasai, sedangkan ayahnya salah seorang pedagang Muslim yang kaya. Biasanya yang menikah dengan keluarga-keluarga terpandang adalah dari kalangan dai atau tokoh-tokoh ilmu (para ulama).

Van den Berg mengatakan, "Para pendiri kerajaan-kerajaan Islam telah menjadi sebuah generasi khusus. Mereka memiliki nama-nama dan gelar-gelar Jawa. Mereka tidak berbaur dengan orang-orang Arab yang datang sesudah mereka. Hanya saja mereka masih mengetahui asal-usul mereka sebagai orang Arab dan bahwa mereka dari kalangan saadah. Karena itu mereka hanya membolehkan para saadah untuk menziarahi makam Sunan Gunung Jati (yaitu kakek mereka, Syarif Hidayatullah) di Cirebon. Sedangkan orang-orang lain (selain para saadah) tidak mereka bolehkan kecuali sampai batas tertentu. "Dalam khutbah-khutbah Jumat, nama-nama sultan disebutkan dengan gelar-gelar Jawa sebagai ganti dari nama-nama Arab. Nama-nama Jawa itu tertera di atas nisan-nisan makam, sehingga mereka menjadi orang Jawa."

la juga menyatakan,

"Di Kesultanan Yogyakarta terdapat sebuah keluarga yang asalnya dari Hadhramaut yang menempati kedudukan yang tinggi di sisi sultan. Keluarga itu telah berbaur dengan orang-orang Jawa. "Seorang sayid dari keluarga as-Seggaf di Siak pada pertengahan abad ke-17 menikah dengan keluarga Sultan Siak. Pada tahun 1782 M ia diangkat sebagai duta sultan untuk pemerintahan Belanda, di Malaka.

"Sayid Muhammad bin Alwi al-Jufri adalah seorang pemuka Arab di Siak dengan kedudukan sebagai Bendahara Panembahan. Ayahnya berasal dari Hadhramaut."

Antara Jambi dan Siak terdapat hubungan kekerabatan. Di antara pemuka Jambi adalah Sayid Muhammad bin Idrus al-Jufri yang bergelar Wirakusuma.

Syarif Hidayatullah dimakamkan di suatu tempat yang bernama Gunung Jati, sehingga ia dikenal dengan nama itu. Sayid ini seorang pahlawan yang memimpin pasukan Kesultanan Demak, memerangi Portugal, dan membebaskan Jakarta. Dengan cepat ia dapat membebaskan Jawa Barat dari pendudukan Portugal yang sebelumnya berada di sana. Hal itu disebutkan oleh buku-buku setempat seperti Puro Kacaruban Nagari, Negara Kertabumi, dan cerita-cerita para penduduk.

Sebuah sumber Portugal karya Joao de Barros mengatakan, "Seorang panglima dari Demak memimpin pasukan, dan melalui Cirebon dalam perjalanannya ke Banten. Ia menduduki pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta) pada awal tahun 1527 M dan mendirikan sebuah masjid di Ciliwung."

Orang-orang Portugal menamakan Syarif Hidayatullah ini dengan nama Falatehan. Maka Prof. Husein Djajadiningrat ingin mengembalikan kata ini kepada asalnya. Ia berpendapat bahwa kata itu merupakan perubahan dari kata Fatahillah dan bahwa Syarif ini mengambil nama atau gelar ini untuk dirinya dari surah al-Fath. Itu adalah setelah kemenangannya atas Portugal dan setelah dapat mengusirnya dari Sunda Kelapa. Lalu ia memberikan nama baru bagi negeri ini, yaitu Jayakarta.

Prof. Husein mengatakan bahwa di antara hal yang menunjukkan kepandaian syarif ini adalah ia mengambil gelar untuk dirinya dari Al-Qur'an. Nama negeri yang ia bebaskan juga merupakan terjemahan dari kata al-fath al-mubin.

Demikianlah pendapat Prof. Husein Djajadiningrat tentang kemungkinan asal penamaan Fatahillah dan Jayakarta. Tetapi para penulis setelah itu menyebut Syarif Hidayatullah dengan gelar Fatahillah atau Falatehan. Padahal nama ini, seandainya pun benar, asalnya merupakan perubahan dari orang-orang Portugis.

Salah seorang dai terdahulu yang menyebarkan Islam di Pulau Tawi-tawi dan sekitarnya adalah Sayid Ali al-Faqih. Sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah salah seorang dari tujuh bersaudara dan kemungkinan ia datang ke Tawi-tawi pada akhir abad ketujuh belas.

Keturunan dari para dai tersebut telah berbaur dan menjalin tali perkawinan dalam masyarakat Muslim. Kita dapat menyaksikan di hadapan kita keturunan keluarga Abdul-Malik yang menyebarkan Islam dan memerintah di Cirebon dan Banten. Mereka menduduki berbagai jabatan. Mereka kemudian kehilangan sebagian besar sifat-sifat nenek moyang mereka yang terdahulu. Hanya saja mereka masih menjaga nasab dan akidah mereka.

Van den Berg mengatakan, "Sesungguhnya keluarga-keluarga lama di Banten tak ubahnya seperti keluarga-keluarga di Cirebon dalam segi kejawaannya. Salah seorang dari keluarga kesultanan Banten memegang jabatan regent di Cianjur pada tahun 1813 M. Ia telah lupa bahwa dirinya termasuk keturunan sultan Banten."

Keluarga al-Qadri yang bernasab kepada Sayid Husein al-Qadri banyak jumlahnya di Pontianak. Sebagian di antara mereka telah tersebar di berbagai daerah, hanya saja mereka mengetahui bahwa mereka termasuk keturunan sultan-sultan dari kalangan Sayid. Masing-masing dari mereka digelari syarif sebagaimana yang lainnya yang dikenal nasabnya seperti keluarga al-Aiydrus yang menjadi raja-raja Kubu, dan keluarga Shihab yang menjadi raja-raja Siak dan Palalawan. Anggota-anggota keluarga ini telah terpencar-pencar di berbagai pelosok Malaysia dan Indonesia. Sebagian mereka memegang jabatan-jabatan yang terpandang di Kerajaan Malaysia.

Kerajaan Palalawan pada mulanya merupakan taklukan Kesultanan Siak, tetapi penjajah Belanda memisahkan kerajaan ini dari akarnya. Keturunan keluarga raja-raja Palalawan masih memerintah kerajaan ini hingga akhir masa penjajahan Belanda. Kalender tahunan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka selalu menyebut para, penguasa Palalawan ini pada setiap nomor (edisi) dari kalender ini. Van den Berg mengatakan:

"Seorang sayid dari Hadhramaut menikah dengan putri Sultan Bacan, Maluku dan memperoleh tiga orang putri. Setelah sang ayah meninggal, putri-putri tersebut diasuh oleh kakek mereka dan menjadi bagian dari keluarga Sultan. Mereka tidak peduli lagi dengan asal-usul mereka. Tampaknya di Bacan banyak yang seperti ini yang telah hilang keturunannya."

Saya mengenal seorang dokter bemama Abdurrahman Nur dari keluarga al-Aydrus yang dilahirkan di Makasar. Setelah ayahnya wafat, ia diasuh oleh pamannya (dari ibu) yang dipanggil Nur. Abdurrahman ini kemudian dimasukkan ke sekolah di mana pamannya yang bernama Nur itu menjadi walinya, sehingga ia dipanggil Abdurrahman Nur. Sekarang tidak tampak lagi asal-usul yang sebenarnya. Keluarga kami di Makasar memiliki hubungan dengan keluarganya. Mereka saling mengenal dan bertetangga.

Dr. Hamka menyebutkan, "Di Pariaman terdapat keturunan raja-raja yang berhubungan darah dengan Kerajaan Pagaruyung yang bergelar sutan; yang berhubungan darah dengan Aceh bergelar bagindo; sedangkan keturunan para saadah bergelar sidi."

la juga mengatakan:

"Di sebagian kampung di Bugis dan Makasar terdapat keturunan para saadah. Setelah beberapa lama mereka berbaur dalam sukubangsa Bugis dan melebur dengan cepat. Mereka banyak mengerahkan usahanya dalam menyebarkan Islam. Di Jambi terdapat keturunan keluarga Baraqbah yang merupakan cabang dari keluarga al-Jufri. Mereka hidup sebagaimana para penduduk pribumi dan berbaur dengan mereka. Mereka juga memiliki gelar-gelar Indonesia. Di Aceh terdapat keturunan keluarga Bafadhal dan keluarga Jamalullail." (Catatan pengulas: Keluarga Baraqbah bukanlah cabang dari keluarga al-Jufri).

Hamka juga mengatakan:

"Sesungguhnya sebagian besar peranakan Arab di Pontianak adalah dari keluarga al-Gadri; di Kubu dari keluarga al-Aydrus, Babud, Muthahhar, al-Hinduan, al-Habsyi, al-Haddad, as-Seggaf, dan lain-lain. Keluarga-keluarga ini menjalin hubungan perkawinan dengan keluarga al-Gadri. Para saadah Pontianak dan Kubu berpegang teguh dalam hal kafa'ah. Hanya saja sebagian besar dari mereka memiliki adat istiadat Melayu dan membaur dengan orang-orang Melayu karena giatnya aktivitas perdagangan mereka."

Di daerah Angke, Jakarta terdapat makam salah seorang anggota keluarga yang bernasab kepada Sultan Hasanuddin. Nama Angke adalah penisbahan kepada Ratu Bagus Angke, yang merupakan amir (penguasa) Jakarta.

Di Palembang terdapat keluarga-keluarga Baalwi, di mana sebagian besarnya masih memelihara tradisi-tradisi Arab dan menjaga keturunannya. Pada keluarga-keluarga Baalwi juga terdapat ulama-ulama dan dai-dai. Anggota-anggota keluarga itu memiliki kedudukan dan kekayaan, sebagaimana juga mereka mempunyai kapal-kapal. Di antara keluarga yang terkenal yang memiliki kepimpinan dan mempunyai kapal-kapal adalah keluarga Syaikhbubakar, keluarga al-Habsyi, keluarga Shahabuddin, keluarga as-Seggaf, keluarga Baraqbah, keluarga al-Kaf, keluarga al-Munawwar, keluarga al-Jufri, keluarga Khaneman, dan lain-lain.

Karena hubungan kaum Alawiyin dengan sultan-sultannya dan dengan orang-orang yang mereka kekuasaan serta karena menjalin hubungan perkawinan dengan mereka, maka kedudukan kaum Alawiyin menjadi meningkat. Sayid Muhammad bin Alwi al-Aththas dari Sulawesi menyebutkan kepada saya tentang pusat-pusat keberadaan kaum Alawiyin di sana sampai sekarang. Pusat-pusat kemasyarakatan ini jarang dimiliki kecuali oleh mereka yang mempunyai keterkaitan dari dua segi: segi kekuasaan dan segi keturunan. Dia juga yang menunjukkan kepada saya bahwa makam seorang dai, Sayid Husein Jamaluddin al-Akbar di Wajo, di desa Tosora.

Di antara pembauran yang saya lihat dalam naskah lama yang tertulis dengan huruf Arab adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim. Pemilik kitab ini adalah al-Faqir al-Haqir Ahmad bin Kyai Mas Sa'id bin Kyai Mas Abdul-Wahhab bin Kyai Mas Sulaiman bin Sayid Syarif Muhyiddin bin Sayid Syarif Abubakar bin Sayid Syarif Muhammad bin Sayid Syarif Hasan bin Sayid Syarif Ali bin Sayid Syarif Alwi bin Sayid Syarif Muhammad bin Sayid Syarif Alwi bin Sayid Syarif Abdullah bin Sayid Syarif Ahmad Muhajir bin Sayid Syarif Isa bin Sayid Syarif Muhammad bin Sayid Syarif Ali bin Sayid Syarif Ruhani Ja'far bin Sayid Syarif Ruhani Muhammad Baqir bin Sayid Syariful Asyraf Zainal Abdidin bin Sayid Syariful Asyraf Azhimul-A'zham Husein asy-Syahid bin Asadullah al-Ghalib wa Ruhani Ali bin Abi Thalib ra.

Dalam silsilah ini tampak bahwa orang-orang yang belakangan bergelar kyai mas dan masing-masing mereka merupakan ulama dengan adanya gelar kyai itu. Sedangkan datuk-datuk mereka bergelar sayid syarif, dan mulai dari Imam Ja'far ash-Shadiq ditambah gelar ruhani, dan Zaid bin al-Imam Ali Zainal-Abidin digelari sayid syariful-asyraf azhimul-a'zham, dan seterusnya. Di halaman terakhir kitab tersebut tertulis sebagai berikut:

Kitab ini pemiliknya adalah hamba yang faqir dan hina, Muhammad bin Ahmad bin Abdul-Wahhab bin Syarif Sulaiman bin Sayid Syarif Abdurrahim bin Sayid Syarif Muhyiddin al-Alawi al-Husaini. Sekian nasabnya.

Dari silsilah ini tampak bahwa ia bernasab kepada Sayid Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Jadi, keturunan sultan-sultan Brunei dan Sambas, penguasa-penguasa Palalawan, sultan-sultan Palembang dan penguasa-penguasa Kubu, sultan-sultan Banten, Cirebon, Siak, Pontianak, dan Perlis dapat dipastikan keturunan-keturunan Baalawi, sebagaimana Juga penguasa-penguasa Kepulauan Filipina.

Van den Berg mengatakan:

"Abdurrahman bin Muhammad Basyaiban datang pada awal abad ke delapan belas ke Cirebon. Ia menikah dengan putri sultan Cirebon dan mendapatkan dua orang anak laki-laki darinya, yaitu Sulaiman dan Abdurrahim. Mereka digelari dengan gelar-gelar Jawa dan tinggal di Surabaya serta Pekalongan. Keturunan keduanya masih ada sampai sekarang, di antaranya di daerah Krapyak. Cabang dari keluarga ini di Surabaya sudah seperti orang-orang Jawa.

"Di antara anak Abdurrahim ada yang menikah dengan putri dari Raden Adipati Danudirjo, administrator wilayah Jogjakarta. Di usia tuanya ia kembali ke Krapyak dan wafat di sana.

"Anak terbesamya (dari tiga orang anak) adalah Hasyim (bergelar Raden Wangsarejo). Yang kedua Abdullah, bergelar raden saja. Keturunan mereka berdua ada di Jogjakarta dan menduduki pekerjaan-pekerjaan penting di sisi sultan, di antaranya Wedana Jaksa, Kepala Urusan Umum. Sedangkan anak ketiga adalah Alwi yang mengabdi pada pemerintah Inggris, yang kemudian menduduki jabatan regent pada tahun 1813 di Magelang dan bergelar Raden Tumenggung Danuningrat 1. Ia juga bergelar Raden Adipati. Pada tahun 1826 M ia digantikan oleh anaknya Ahmad (Raden Tumenggung Danuningrat 11). Ia mengundurkan diri tahun 1862. Lalu yang memegang jabatan itu anaknya, Said (Raden Tumenggung Danuningrat 1H) sampai ayahnya wafat. Ia digelari Raden Tumenggung Danukusumo. Setelah mengundurkan diri, ia digantikan oleh anaknya, Ahmad.

"Pada bulan Februari 1881 saya berjumpa dengan Sayid Said tersebut ketika ia kembali dari Mekah di atas kapal yang datang dari Singapura. Saya tidak merasa bahwa saya berhadapan dengan seorang peranakan Arab, melainkan dengan seorang penguasa Jawa lama."

Sayid Ahmad bin Muhsin Ba'bud datang dari Hadhramaut ke Pekalongan. Keturunannya mempunyai kedudukan yang terhormat, dan mereka telah tersebar.

Van den Berg juga mengatakan:

"Telah diketahui bahwa orang-orang Arab sampai ke kepulauan ini dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil. Mereka menghancurkan Majapahit dan menjadi penguasa setelah mengawini putri-putri para raja dan kalangan aristokrat. Mereka memiliki pengaruh terhadap para penguasa dan para penduduk.

"Saya menduga penjelasan ini berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya, karena sesungguhnya pengaruh mereka terus berlangsung terhadap semua unsur hingga terhadap mereka yang berada di Majapahit. Hal ini tampak sepanjang sejarah Jawa. Pengaruh yang sepenuhnya terlihat pada banyak peristiwa. Pengaruh orang-orang Arab tidak hanya dari segi agama saja. Tetapi juga dari segi keramahan, kehalusan tutur kata, dan kemampuan mereka untuk berterus terang secara halus. Mereka memperoleh sukses besar dalam semua aktivitas politik mereka.

"Di dekat Palembang terdapat dua buah kampung, Muara Telang dan Karang Anyar, di mana di kedua kampung itu terdapat keluarga Bafadhal dan keluarga Jamalullail."

Sebenarnya, selain nama-nama yang disebutkan penulis di atas terdapat juga orang-orang Jawa yang nasabnya dikenal, di antaranya:

Syaikh Nawawi bin Syaikh Haji Umar, pembangun masjid Tanara di Banten dilahirkan tahun 1230 H (1813 M). Selama puluhan tahun ia menuntut ilmu di Mekah al-Mukarramah dan di Madinah al-Munawwarah. Lalu berangkat ke Syam dan Mesir untuk belajar dan berhubungan dengan ulama-ulama. Ia memiliki karangan-karangan yang puluhan jumlahnya. Selama 69 tahun ia berada jauh dari negerinya dan wafat di Mekah pada tahun 1314 H (1897 M). Syaikh Nawawi bernasab kepada sultan-sultan Banten. Keturunan-keturunannya masih ada.

Seorang alim, Haji Raden Muhammad adalah generasi kedelapan dari keturunan Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah al-Alawi yang wafat tahun 1329 H (19110 M). Ia seorang dai dan pendiri pesantren Sukamiskin, yang terletak delapan kilometer dari Bandung. Setelah ia wafat, yang mengurusnya adalah anaknya, Haji Raden Dimyathi. Pada tahun 1941 M bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi para santri serta kegiatan pengajaran, pengobatan, dan percetakan menjadi hancur karena dibom ketika para santri berjuang menghadapi penjajah. Sejumlah santri mati syahid dalam peristiwa itu. Setelah itu bangunan dan masjid dibangun kembali dan yang memimpinnya kemudian adalah Raden Anang Shonhaji.

Sebagai tambahan tentang masalah pembauran ini, saya ambil sebagian keterangan yang terdapat pada kitab Tuhfah an-Nafts karangan Raja Ali Haji, Riau dalam bahasa Melayu. Ia mengatakan:

Raja Siak mempunyai seorang putri bernama Badriyah. Ia menikahkannya dengan Sayid Usman bin Syihab. Dari pernikahan itu ia mendapatkan anak Sayid Ali yang kemudian memegang pemerintahan Siak karena habisnya keturunan Raja.

Ratu Cindera Midi, putri Upu Daeng Panimbun Bugis dari ibu bernama Ratu Kasamba, putri Sultan Muhammad Zainuddin, Sultan Matan, menikah dengan Syarif Abdurrahman bin Husein al-Gadri yang kemudian memerintah Kesultanan Pontianak. Ia melahirkan anak bernama Syarif Qasim. (yang kemudian memerintah setelah ayahnya) dan Syarifah Aisyah (yang dinikahi oleh Sayid Syaikh bin Hamid Babud). Ratu Tuanku Hitam, putri Ratu Tuanku Mendak (putri Sultan Abdul-Jalil), menikah dengan Sayid Hasan bin Syaikh bin Yahya dan melahirkan anak bernama Syarifah Halimah. Kemudian Halimah ini menikah dengan Sayid Muhammad bin Zein Karisyah dan mendapatkan 6 orang anak, yaitu Zubaidah, Maryam, Abdullah (yang menikahi Shalihah, putri Raja Ja'far dan mendapatkan anak bernama Usman), Ruqayah, Syaikh, dan Husein (menikah dengan Maimunah binti Ja'far dan mendapatkan beberapa orang anak, yaitu Mahmud, Alwi, dan Halimah. Di antara keturunannya adalah Hasyim dan Ahmad).

Gambaran Tentang Orang-orang Arab di Masa Lalu

Van den Berg memberikan gambaran tentang orang-orang Arab dengan perkataannya:

"Pemukiman-pemukiman yang banyak didiami oleh para sayid biasanya lebih maju, seperti Palembang. Di rumah-rumah sayid yang kaya biasanya dijumpai perpustakaan berisi buku-buku cetakan Mesir, Suria, dan Konstantinopel. Para sayid yang kaya di Singapura berlangganan surat-surat kabar Arab atau surat-surat kabar Melayu terbitan Indonesia, berbeda dengan di pemukiman-pemukiman lain." "Pendidikan Arab, baik yang dasar maupun yang tinggi diberikan secara cuma-cuma. Para pembimbing tidak menerima gaji sebagaimana di Hadhramaut. Kitab-kitab yang dipelajari juga sama. Mereka jarang mempelajari kitab-kitab tasawuf, sedangkan para penduduk pribumi menyenangi tasawuf

"Keluarga-keluarga bangsa sayid lebih mengutamakan perkawinan sesama mereka. Jadi, seorang sayid menikah dengan seorang syarifah atau putri sultan sebagai istri kedua. Sedangkan mereka yang menikah dengan yang lain banyak yang hilang keturunannya"

la juga mengatakan, "Para sayid memelihara nasab-nasab mereka, sehingga nasab mereka pun dikenal, tidak seperti yang lain."

Faktor-faktor yang Dihadapi Bahasa dan Huruf Arab

Huruf Latin muncul dari Barat bersamaan dengan timbulnya penjajahan terhadap daerah-daerah Timur, di antaranya pulau-pulau di Timur Jauh. Penjajah tidak mampu menjadikan huruf-huruf yang dibawa dari Barat sebagai ganti huruf Arab kecuali setelah seperempat abad pertama dari abad 20.

Huruf Arab telah tersebar luas. Di Sumatera dinamakan huruf Melayu, di Malaya disebut huruf Jawi, dan di Jawa dinamakan huruf Pegon dan huruf Arab. Karena bahasa Arab memiliki kedudukan yang tinggi, maka kitab-kitab biasanya ditulis dengan bahasa dan huruf Arab. Terkadang disertai dengan terjemahannya dengan bahasa Melayu yang tertulis dengan tulisan Arab. Bahkan, para ulama melakukan surat menyurat dengannya. Dengannya pula ditulis pengumuman-pengumuman dan selebaran-selebaran. Setiap Muslim harus belajar membaca Al-Qur'an dan mengenal huruf-hurufnya sejak kecil. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Sultan Malikuzh Zhahir, Raja Pasai menguasai bahasa Arab dengan baik. Ia menyelenggarakan majelis-majelis ilmu yang dihadiri oleh para ulama. Raja-raja Aceh mempunyai penulis-penulis yang mengurus Dewan Risalah Arab. Kepala Dewan ini dinamakan katib al-muluk. Perundingan-perundingan yang dilakukan antara kerajaan ini dengan negeri-negeri asing dilakukan dengan bahasa Arab. Kesepakatan-kesepakatan dan perjanjian-perjanjian juga ditulis dengan huruf Arab.

Hal tersebut di atas terus berlangsung hingga masa penjajahan. Pemerintah Belanda tidak berani menghapuskan huruf Arab dengan kekuatan (secara paksa). Bahkan, mata uang yang beredar di daerah jajahannya, yaitu Hindia Belanda, di atasnya tertulis huruf Arab dengan tulisan yang indah.

Hubungan Yang Kuat Antara Arab dengan Indonesia

Surat kabar Pelita memuat sebuah artikel dengan judul seperti di atas yang ringkasannya sebagai berikut:

"Para pelajar pada umumnya mengetahui gelar-gelar para dai yang lalu, tetapi jarang yang mengetahui asal-usul dan aktivitas mereka. Di antara para dai yang dikenal gelar-gelarnya adalah Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Gresik, Sunan Gunung Jati di Cirebon, Sunan Bonang di Tuban, Malik Ibrahim di Gresik, Sultan Babullah di Ternate, Ja'far ash-Shadiq yang bergelar Sunan Kudus di Kudus, Hasyim yang bergelar Sunan Drajat di Lamongan, Sultan Hasanuddin putra Syarif Hidayatullah di Banten, dan lain-lain. Mereka berpangkal kepada satu keluarga, yaitu Sayid Jamaluddin al-Husein yang wafat di WaJo. Ia cucu ke-19 dari Rasulullah saw melalui putrinya, Fatimah az-Zahra'.

Kami telah menyebutkan tentang Alwi bin Sa'id bin Abdurrahim Basyaiban, seorang penguasa di Magelang. Ia seorang yang dikenal nasabnya. Tetapi anak cucunya memakai gelar-gelar Jawa. Salah satu cucunya dahulu tinggal di Jakarta di sebuah jalan yang dinamai dengan namanya yaitu Paseban yang merupakan perubahan dari Basyaiban.

Banyak orang yang mengenal pelukis ternama Raden Saleh, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah putra Husein bin 'Awadh dari keluarga bin Yahya, seorang keturunan Arab. Ibunya adalah putri penguasa Lasem, Kyai Bustam.

Berikut ini adalah ringkasan dari apa yang dimuat oleh harian tersebut. Saya ingin memberikan tambahan di sini untuk menjelaskan data yang berhubungan dengan orang-orang yang disebutkan oleh harian itu. Saya sebutkan para dai itu -yang gelar-gelamya dikenal oleh semua orang. Jarang orang yang mengetahui nama-nama mereka yang sebenarnya. Mereka itu adalah:

  1. Sunan Ampel, yaitu Ali atau Ahmad bin Ibrahim bin al-Husein Jamaluddin.
  2. Sunan Giri, yaitu Muhammad Ainul-Yaqin bin Ishaq bin lbrahim bin al-Husein Jamaluddin. Ia memiliki gelaran-gelaran yang lain.
  3. Sunan Gunung Jati, yaitu Syarif Hidayatullah bin Abdullah bin Ali Nuruddin bin al-Husein Jamaluddin.
  4. Sunan Bonang, yaitu Ibrahim bin Ali, di Tuban.
  5. Malik Ibrahim di Gresik
  6. Sunan Kudus, yaitu Ja'far ash-Shadiq bin Ali. Ia yang membangun kota ini dan menamakannya Kudus. Masjidnya dinamakan masjid al-Aqsha.
  7. Sunan Drajat, yaitu Hasyim bin Ali.
  8. Syarif Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah bin Abdullah bin Ali Nuruddin bin al-Husein.

Gelar-gelar yang diberikan kepada mereka adalah mengikuti tradisi yang berlaku. Tradisi-tradisi gelar masih ada sampai sekarang di Indonesia. Terkadang gelar-gelar itu lebih dikenal, sehingga nama-nama mereka yang sebenarnya tidak lagi teringat.

Dr. Hamka dalam pidatonya yang disampaikan pada Seminar Sejarah Riau yang diadakan di Pekanbaru bulan Mei 1975 mengatakan:

"Keturunan Arab telah sepenuhnya melebur di masyarakat dan telah terjadi percampuran darah sejak seribu tahun yang lalu. Keluarga Jamalullail telah hijrah ke Sumatera Barat dalam perjuangan mereka menyebarkan Islam. Para penduduk menggelari anggota-anggota keluarga ini dengan gelar sidi."

"Imam Bonjol, panglima Perang Padri di Sumatera Barat dan seorang pahlawan Indonesia, nama sebenarnya adalah Muhammad Syahab. Hanya saja siasat penjajah berusaha memisahkan seseorang dari yang lainnya, agar dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang asing timur dan agama yang mereka bawa adalah agama orang asing. Tetapi sejarah mengungkapkan kepada kita, bahwa kecintaan rakyatlah yang memilih Sayid Ali bin Usman bin Syihab untuk memimpin Kesultanan Siak. Saudaranya, Abdurrahman bin Ali bin Syihab menjadi penguasa Palalawan. Di antara, cucunya adalah sultan Siak, Syarif Qasim Saifuddin bin Syihab. Ia seorang yang banyak memberikan bantuan kepada, Republik Indonesia. Ialah orang pertama yang mengumumkan bergabungnya kesultanannya ke Republik Indonesia dan menyumbangkan 13 juta Gulden pada tahun 1945..."

Imam Bonjol

Bonjol adalah nama negeri di mana orang alim dan pejuang yang memerangi Belanda ini dinisbahkan kepadanya dan dimakamkan di sana. Penulis terkenal, Yusuf Abdullah Puar, yang merupakan salah seorang cucu Pahlawan Basa 1, paman Imam Bonjol, menulis sebuah artikel di mana di dalamnya ia menyebutkan bahwa, Siti Rahmah, ibu dari Zainul-Anwar adalah cucu keenam dari nenek Hamatun, ibunda Imam Bonjol. Dengan demikian, anaknya, Zainul Anwar adalah cucu ketujuh (dari jalur ibu).

Muhammad Shahab, (nama, Imam Bonjol) dilahirkan pada tahun 1772. Pada masa mudanya ia dipanggil Peto Syarif, kemudian terkenal dengan sebutan Tuanku Mudo, yang merupakan gelar para ulama. Ibunya adalah Hamatun. Pamannya dari ibu adalah Sayid Usman, seorang Arab yang berasal dari Yaman Selatan. Ayah dari mereka berdua, (ibunya dan pamannya) pernah tinggal beberapa lama di Maghrib. Sayid Usman dan saudara perempuannya ini sampai di Sumatera Barat sebagai dai. Kemudian mereka diminta oleh para penduduk Bonjol untuk menyebarkan ilmu-ilmu agama. Datuk Tumenggung memberikan sebidang sawah bagi mereka di kampung Koto, daerah Bonjol. Sayid Usman digelari Datuk Bagindo Suman. Gelar ini dipakai turun temurun oleh anak cucunya hingga tahun 1950, sebagaimana mereka mewarisi jabatan qadhi di Ganggu Hilir, Bonjol.

Tuanku Laras, kepala daerah itu di masa Paderi yang dikenal dengan gelar Naah Sutan Chaniago telah mengarang sebuah kitab dalam bahasa Minangkabau dengan huruf Arab. Di dalamnya ia menyebutkan bahwa Imam Bonjol wafat di kampung Koto. Kitab ini masih tersimpan pada Haji Qoharuddin dari keluarga Chaniago Kitab ini dianggap sebagai milik keluarga atau suku. Photo copynya ada pada Zainul-Anwar di Jakarta. Namun ia telah menyerahkannya kepada Dr. Priyono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (19661975) karena memandangnya sebagai seorang pakar dalam bidang sejarah dan kebudayaan Islam agar ia dapat mengkajinya. Zainul Anwar ini merupakan pembantunya. Ia telah mendapatkan keterangan dari Pahlawan Basamuda pada tahun 1929 dan dari neneknya (dari ibu) tentang sejarah wafatnya Imam Bonjol.

Sumber-sumber Belanda mengatakan bahwa Imam Bonjol ditawan dan dibuang ke Palopo, Manado pada tahun 1837 dan wafat di sana tahun 1864. Tetapi sumber-sumber lain menafikan apa yang disebutkan oleh sumber-sumber Belanda itu.

Hamka mengatakan bahwa Imam Bonjol memiliki sebuah perpustakaan yang berisi kitab-kitab tafsir, hadis, tasawuf, fiqih, nahu, sharaf, mantiq, dan ma'ani. Semuanya masih berupa tulisan tangan. Ahli warisnya masih menyimpan sebagian kitab-kitab itu. Di antara mereka adalah Ahmad Marzuqi di Pematang Siantar.

Kaum Padri

Perang Padri adalah peristiwa yang berpengaruh dalam sejarah.. Ia merupakan peristiwa perjuangan pada seperempat pertama abad ke- 19.

Orang yang pertama kali menulis tentang peristiwa ini dan menduga sebab-sebabnya adalah seorang penulis Belanda, Nieman. Ia diikuti oleh beberapa penulis lain, di antaranya Thomas Arnold. Pada tahun 1218 H (1803 M) tiga orang haji dari Indonesia kembali ke tanah airnya setelah mereka tinggal di tanah haram sejak sebelum tahun 1205 H (1790 M). Jadi, lebih dari dua belas tahun mereka belajar di tanah haram, tempat yang dirindukan oleh kaum Muslim dan diinginkan oleh para penuntut ilmu dari berbagai pelosok.

Mereka bertiga yang dikenal dengan gelaran mereka itu adalah:

  1. Haji Miskin
  2. Haji Piobang
  3. Haji Sumanik

Mereka belajar kepada para ulama terkenal di masa itu. Ketika itu di Mekah dan Madinah terdapat banyak ulama yang membanggakan berbagai negeri. Di antara mereka adalah:

  1. Al-'Allamah Ibrahim bin Muhammad al-Amir ash-Shan'ani al-Makki yang wafat pada tahun 1213 H (1799 M)
  2. Al-'Allamah asy-Syaikh Muhammad ad-Dasuqi asy-Syafi'i yang wafat pada tahun 1247 H di Madinah al-Munawwarah.
  3. Al-'Allamah asy-Syaikh Muhammad Sa'id bin Muhammad Sanbal yang wafat pada tahun 1215 H.
  4. Al-'Allamah asy-Syaikh Thahir bin Muhammad Said Sanbal yang wafat pada tahun 1218 H.
  5. Al-'Allamah asy-Syaikh Sayid Ahmad bin Alwi Jamalullail yang wafat pada tahun 1216 H, seorang mufti madzhab Syafi'i.
  6. Al-'Allamah asy-Syaikh Husein bin Ali, mufti madzhab Maliki yang wafat pada tahun 1218 H di Mekah al-Mukarramah.
  7. Al-'Allamah asy-Syaikh Sholeh al-Falani al-'Umri yang wafat pada tahun 1218 H di Madinah al-Munawwarah.
  8. Al-'Allamah asy-Syaikh Zainuddin Abdul-Ghani bin Muhammad Hilal yang wafat pada tahun 1218 H, seorang mufti madzhab Syafi'i di Mekah al-Mukarramah.
  9. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah bin al-Qadhi Abdul-Mun'im, mufti madzhab Hanafi di Mekah al-Mukarramah.
  10. Al-'Allamah Sayid Yusuf bin Muhammad al-Baththah al-Ahdal, di Mekah al-Mukarramah.
  11. Syaikh Ali ash-Shiddiqi.
  12. Syaikh Arif Jamal.
  13. Syaikh Yahya bin Muhammad Habab.
  14. Syaikh Muhammad Sa'id Safaruddin Mala Abdullah al-Islambuli (Qadhi Madinah),
  15. Syaikh Ahmad al-Jauhari,
  16. Syaikh Muhammad al-Jauhari,
  17. Syaikh Abdul-Hafizh Ajmi.
  18. Sayid Umar bin Ahmad bin Aqil as-Seggaf,
  19. Syaikh Muhammad Umar bin Abdur-Rasul, dan sebagainya.

Dari mereka inilah orang-orang yang berada di sekitar Baitul haram dan Masjid Nabawi mendapatkan ilmu. Para penuntut ilmu itu mengambil akhlak mereka dan mengikuti mereka dalam hal pemikiran, pakaian, dan model tasawuf mereka yang sederhana.

Para haji yang bertiga tadi kembali pada tahun di mana pasukan Nejed masuk menaklukkan Hijaz pada 18 Shafar 1218 H (1803 M). Mereka kembali ke tanah air dalam keadaan hati mereka penuh dengan keikhlasan untuk membela agama dan benci kepada musuh-musuh agamanya. Maka mulailah mereka menyiarkan ajaran-ajaran Islam dan jihad di jalan Allah, serta memelihara tradisi-tradisi yang dibenarkan agama. Tetapi di Sumatera Barat mereka mendapati suatu kelompok yang dinamakan kaum adat yang dalam masalah-masalah warisan berpegang teguh pada adat yang bertentangan dengan hukum Islam. Maka dengan cara yang baik mereka pun menyeru kaum adat untuk meninggalkan apa yang mereka pegang itu.

Kemudian tiga orang haji tadi diperkuat oleh yang lain-lainnya seperti Tuanku Nan Renceh, penyebar Islam pada suku-suku batak tahun 1804 dan gurunya, Tuanku Nan Tuo yang mengajak orang dengan cara yang baik. Selain itu juga Peto Syarif yang bergelar Imam Bonjol, dan lain-lain.

Tetapi sebagian ulama yang terlalu meluap-luap semangatnya melakukan penentangan dengan keras, sehingga masalahnya berkembang menjadi penggunaan kekerasan. Maka terjadilah pertempuran antara mereka dan kaum adat. Ketika peperangan telah berlangsung lama, kaum adat merasa membutuhkan orang-orang yang dapat membantu mereka. Belanda melihat bahwa kesempatan yang ditunggu telah datang. Maka mereka pun memberikan bantuan kepada kaum adat.

Pada akhirnya kedua belah pihak merasa bahwa pertempuran antara mereka hanya menguntungkan penjajah. Mereka juga menyadari bahwa pertentangan tidak boleh menyebabkan pertumpahan darah. Suatu seruan tidak boleh membawa kepada kebencian atau peperangan. Maka mereka pun sepakat untuk menghadapi penjajah. Lalu terjadilah peperangan yang dahsyat dalam waktu yang lama. Banyak yang terbunuh dalam peristiwa itu, di antaranya para ulama. Peperangan ini kemudian dinamakan Perang Padri.

Banyak terdapat pendapat mengenai asal-usul penamaan padri. Sebagian orang menduga bahwa nama itu dihubungkan dengan negeri Pidi. Tetapi kemungkinan ini kecil. Sebagian yang lain berpendapat bahwa nama itu dikaitkan dengan Paderi, yaitu para pendeta karena para pejuang menggunakan pakaian putih, di leher mereka terdapat tasbih, dan pada kepala mereka terdapat serban. Tetapi para pendeta tidak mengenakan serban.

Hamka dalam bukunya Tuanku Rao, antara fakta dan khayal halaman 307 mengatakan bahwa pakaian-pakaian yang dikenakan merupakan ciri-ciri Islam. Pakaian mereka seperti pakaian Pangeran Diponegoro dan para sahabatnya yang memakai jubah putih, serban, dan tasbih ketika memerangi Belanda selama lima tahun.

Sebagian orang berpendapat bahwa nama itu merupakan penisbahan kepada badar. Kemungkinan ini yang lebih dekat, karena dalam peperangan melawan orang-orang kafir mereka menyerupakan diri mereka dengan ahli badar yang berjuang bersama junjungan kita Rasulullah saw.

Ada pula orang yang memiliki pendapat lain. Yaitu, bahwa kebanyakan orang yang belajar kepada para ulama di tanah haram memiliki kemantapan dalam beribadah dan di antara ulama yang mereka ambil ilmunya adalah Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Badri al-Madani. Maka mereka menisbahkan diri mereka kepadanya dan disebut sebagai al-Badriyyin. Pengaruh para ulama itu terlihat pada diri murid-muridnya, baik dalam hal pakaian, tanda-tanda (ciri-ciri), keteguhan dalam ibadah, dan sebagainya.

Orang Belanda pertama yang menulis tentang Perang Padri adalah Kolonel Ridder de Stuers, Kolonel Elout, dan Lange. Sedangkan orang-orang sesudah mereka hanya mengutip dari mereka. Yang benar, nama itu merupakan penisbahan kepada paderi (para pendeta), karena kaum Muslim memerangi mereka, sehingga dinamakan Perang Padri, sebagaimana juga Perang Salib.

Gelar-gelar dan Keturunan-keturunan

Gelar-gelar sejak dulu digunakan pada adat istiadat dan tradisi di Kepulauan Nusantara. Setiap raja memiliki gelar khusus. Demikian juga para pangeran, para pegawai tinggi, dan semua yang memiliki kedudukan. Gelar-gelar merupakan hal yang penting dalam istilah yang digunakan di masyarakat, sehingga kebanyakan orang tidak mengenal suatu pribadi kecuali gelarnya. Ada gelar-gelar yang dipakai secara turun temurun. Keturunan para sultan memiliki gelar, demikian pula keturunan para pangeran. Gelar-gelar itu banyak dan bermacam-macam.

Pada zaman Belanda, kesultanan memberikan suatu gelar bagi seseorang yang mengabdi padanya atau ingin mengabdi. Misalnya gelar raden. Pada asalnya gelar ini diberikan pada orang-orang tertentu. Namun, terkadang ada juga orang yang diberi gelar itu, tetapi anak-anaknya tidak mewarisinya.

Adapun yang berasal dari keluarga Sadah Alawiyyin digelari sayid, syarif, dan habib. Tetapi gelar habib digunakan untuk seorang yang alim, yang telab berusia lanjut, atau seorang pemuka di antara mereka. Apabila seorang Alawi memegang suatu pemerintahan ia digelari syarif. Gelar ini biasanya dipakai secara turun temurun oleh anak cucunya.

Dr Hamka menyebutkan:

"Gelar syarif khusus digunakan bagi keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husein apabila menjadi raja. Sultan-sultan Indonesia yang keturunan Rasulullah saw seperti sultan-sultan Siak, Pontianak, dan lain-lain digelari dengan gelar syarif. Sultan Siak terakhir secara resmi digelari Sultan Sayid Syarif Qasim bin Sayid Syarif Hasyim Abdul-Jalil Saifuddin. Demikian juga pendiri kota Jakarta yang terkenal dengan panggilan Sunan Gunun Jati, ia digelari Syarif Hidayatullah. Orang-orang Arab sejak masa kesultanan Aceh sampai sekarang meletakkan gelar sayid sebelum menyebutkan namanya. Saudara kita Gazalba yang terkenal di bidang kebudayaan digelari sidi.

"Berdasarkan hadis Rasulullah saw, 'Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin (sayyid) pemuda ahli surga.' Maka menjadi tradisi turun temurun bahwa setiap keturunan Sayidina Husein di dunia islam digelari Sayid. Dipandang kurang hormat kepada Nabi kalau ada yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki keturunan atau mengatakan bahwa orang yang mengaku keturunan beliau adalah seorang yang berbohong. Tidak akan mengatakan perkataan seperti ini kecuali orang yang kasar perasaannya. Ketika Abu Lahab mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang yang putus keturunannya turu surah al-Kautsar. Yang benar-benar putus keturunannya adalah Abu Lahab karena kedua anaknya mati dan tidak meninggalkan anak.

Hamka juga mengatakan, "Kaum Alawiyyin di seluruh pelosok dunia, memelihara, nasab-nasab, mereka. Di Irak mereka memiliki faqib, di Mesir mereka memiliki sayyidus-sadat. Di Maroko, rajannya sendiri yang menjaga nasabnya, karena ia juga termasuk dari mereka. Tidaklah mudah seseorang mengaku keturunan Hasan ataupun Husein, karena jika ia ditanya tentang kebenaran pengakuannya dia harus menyebutkan nama-nama ayahnya, kakeknya dan keluarganya (marganya). Lalu naqib akan memeriksa, pengakuannya dalam syajarah (pohon) nasab."

Kemudian Hamka menyebutkan tokoh-tokoh Islam yang terkenal pada masa, sekarang yang dikenal dengan gelar ini, dan juga, sultan-sultan Yordania, Maroko, dan Perlis. Ia mengatakan:

"Saya menyebutkan ini agak panjang agar jangan ada orang yang usil mengacaukan nasab orang lain kerana dorongan nafsunya. Saya sendiri tidak hafal nama datuk-datuk saya kecuali sampai datuk yang keenam, saja. Walaupun demikian saya bangga dengan hal ini dan saya akan marah pada orang yang mencoba mengingkarinya. Jadi bagaimana dengan orang yang mengenal sampai 30 atau 40 datuknya ke atas? Apalagi jika pengingkaran itu ditujukan pada keturunan Sayidatuna Fatimah puteri Rasulullah saw."

Mengenai madzhab, Hamka mengatakan, "Tidak layak untuk tidak mengetahui bahwa, Hadhramaut berpegang teguh pada mazhab Syafi'i. Bahkan, yang mengokohkan mazhab ini di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah para ulama Hadhramaut."

Tidaklah mudah menyebutkan semua orang dari keturunan ini di sini. Itu terdapat para syajarah-syajarah yang berada pada naqib-naqib dan pada orang-orang yang mengkhususkan diri dalam bidang ilmu nasab. Di sini kami hanya menyebutkan sebagian saja secara sepintas. Di antara mereka adalah Sayid Muhammad bin Abdul Malik al-Aydrus yang dimakamkan di salah satu pelosok Trengganu. Di masa hidupnya ia memerintah Pulau Manis di Laut Trengganu. Dia seorang yang alim dan saleh. Di kalangan penduduk ia dikenal dengan gelar Teuku Pulau Manis pada masa Sultan Zainal Abidin 1.

Dalam Sejarah Kelantan disebutkan bahwa yang membawa Islam ke sana adalah seorang dari kalangan Alawiyin keturunan Zainal Abidin. Mungkin yang dimaksud adalah Zainal Abidin al-Aydrus. Juga diketahui adanya sebuah keluarga al-Aydrus yang bernasab kepada Sayid Zainal Abidin bin Syaikh bin Mushghafa bin Ali Zainal Abidin bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah al-Aydrus.

Muhammad bin Abubakar, seorang alumni Universitas Malaya menulis sebuah kajian tentang keluarga ini beserta pengaruh dan kedudukannya. Ia menyebutkan bahwa makam salah satu anggota keluarga ini terdapat di Cabang Tiga, sebuah tempat yang dekat dari Trengganu. Makam itu adalah makam Sayid Mushthafa al-Aydrus yang wafat pada tahun 1207 M (1209 H) yang bergelar Teuku Makam Lama. Ia juga mengatakan:

"Konon tiga orang saudara dari keluarga al-Aydrus pergi dari Hadhramaut ke daerah timur. Salah satu di antara mereka menetap di Jawa, yang lain di Trengganu, sedangkan yang ketiga tinggal di Patani untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Sayid Mushthafa menikahkan puterinya dengan Sayid Zainal Abidin yang datang dari Jawa sebagai pedagang. Mereka dikarunia seorang anak bernama Sayid Muhammad yang gelari Teuku Tuan Besar. Ia wafat pada tahun 1295 H (1878 M); Muhammad ini memiliki seorang anak bernama Sayid Abdurrahman yang bergelar Teuku Paluh yang meninggalkan keturunan yang memiliki peran dalam sejarah Trengganu. Anak terbesarnya adalah Muhammad yang memegang jabatan sebagai menteri besar pada masa Sultan Omar tahun 1864 M. Di antara mereka ada pula yang menjadi mufti, dan ada yang menjadi penasihat di mahkamah. Pada masa sultan-sultan, keluarga ini memiliki sejumlah ulama dan mempunyai kedudukan-kedudukan yang terpandang. Penasihat sultan adalah Sayid Mushthafa, seorang alim yang menjadi anggota Majelis Syura. Mereka memiliki hubungan dengan rakyat sebagaimana mereka berhubungan dengan para sultan karena sebagian besar mereka memiliki akhlak yang mulia, suka beribadah dan berdakwah, serta berilmu. Para pelajar mengambil ilmu dari mereka hingga sultan sendiri. Ketika itu agama memiliki kedudukan, dan rakyat berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya."---'Muhammad Ibrahim Munsyi dalam buku perjalanannya yang dicetak di Kuala Lumpur tahun 1980 yang menceritakan perjalanannya pada tahun 1870 menyebutkan tentang beberapa pribadi dari kalangan Alawiyyin di semenanjung Melayu. Di antara mereka adalah Sayid Ahmad bin Ali al-Juneid (sebenamya ia Sayid Ahmad bin Harun bin Ali al-Juneid sebagaimana, keterangan yang disampaikan kepada. saya oleh Sayid Abdul Qadir al-Juneid), Sayid Abdullah bin Hasan al-Masyhur, yang berbuat baik menyampaikan hibah dari Engku Abdurrahman bagi anakanak Habib Syaikh, di mana salah satunya, berada, di Ulu dan yang lainnya di Bandar Hilir. Mereka berdua kadangkadang melakukan perjalanan keliling bersama, Engku Abdul Majid. Kemudian Sayid Muhammad alHabsyi yang memiliki kedudukan yang mulia. dan bergelar Wan Cilik sekitar tahun 1289 H, Sayid al-Masyhur yang menjadi pangeran di Selangor wafat pada tahun 1873 M (mungkin ia. mengambil namanya dari madrasah Masyhur di Pulau Penang). Kemudian Sayid Zain al-Habsyi yang telah menetapkan program-program perbaikan yang banyak untuk mengatur negeri itu. Ia. seorang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan berpengaruh, serta memiliki kewibawaan. Ia dinamai Shahib ar-Rihlah oleh Sayid Zain bin Sayid Puteh al-Habsyi di Pulau Penang. Ia juga tangan kanan dari Pangeran Tengku Kodin.

Yang memegang kesultanan Perak adalah Ismail (18711874), putera, dari Sayid Raja Hitam. yang berasal dari Siak, Sumatera. Kekuasaan kesultanan beralih kepadanya dari ibunya, Ratu, Mendak binti Sultan Ahmadin. Kemudian terjadi pertentangan di dalam. keluarga, karena adanya orang selain dia. yang berhak memegang kekuasaan. Maka Inggris pun campur tangan dan menghilangkan pertentangan yang terjadi.

Dalam buku Sejarah Alam Melayu disebutkan bahwa pada tahun 1765 Sultan Iskandar menjadi raja Perak. Ia memiliki perhatian untuk menghidupkan dan menyebarluaskan syariat Islam. Ia pun sangat hormat pada para ulama. Ia mengangkat salah seorang dari kalangan Alawiyin yaitu Sayid Abubakar untuk memegang jabatan bendahara. Saudaranya, Sayid Hasyim al-Asghar adalah orang yang membuat Undang-undang 99 Kesultanan Perak.

la juga menyebutkan bahwa orang-orang Arab terdahulu tidak cocok dengan orang Melayu kecuali setelah datangnya para saadah Alawiyyin dari Hadhramaut. Mereka memiliki kedudukan dan berbaur dengan para penduduk. Sebagian mereka berusaha mengirim para pemuda ke Mekah al-Mukarramah.

Al-Aththas di Pahang

Dahulu Sayid Umar al-Aththas merupakan Perdana Menteri kesultanan Pahang. Hal ini disebutkan oleh Sir R.O. Winstedt dalam bukunya Early Rules of Perak, Pahang, and Aceh.

Pada awal abad ke- 19 dua orang sayid, yaitu Sayid Zein bin Abdullah dan Sayid Ahmad bin Hasan menjalankan perdagangan di Pahang.

Sayid Hasan bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Thalib al-Aththas dilahirkan pada tahun 1832 M. Ibunya seorang penduduk Pahang. Hubungan-hubungannya dengan keluarga Sultan berjalan baik. Sayid ini menekuni bidang perdagangan dan memperoleh keberhasilan. Ia juga menjalankan dakwah. Ketika terjadi pertentangan-pertentangan antara saudara-saudara Sultan, Sayid Hasan berhasil menghilangkan pertentangan di antara mereka. Sayid ini juga bersungguh-sungguh dalam membuka, sejumlah madrasah, di antaranya Madrasah al-Aththasiyah di Pahang pada tahun 1860 M.

Sultan Ahmad memberikan hadiah kepadanya sebidang tanah di Ketapang, dan sebuah Pulau yang dikenal Pulau Habib Hasan. Ia menanaminya dengan pohon karet dan memberikan kesempatan kerja bagi para penduduknya. Ia juga mewakafkan sebidang tanah untuk kepentingan Islam, sedangkan sisanya ia tinggalkan untuk ahli warisnya. Namun para ahli warisnya kemudian menyerahkannya kepada kesultanan Pahang ketika negeri Melayu (Malaya) memperoleh kemerdekaannya.

Kemudian Sayid Hasan tinggal di Muara pada tahun 1880 M. Di sana ia dikaruniai oleh Allah SWT seorang anak, Sayid Muhammad yang merupakan ayah dari Sayid Ali bin Muhammad, ketua "Auqaf Sayid Hasan" dan ketua "Rabithah Alawiyah" di Johor. Lalu Sayid Hasan pindah ke Johor. Di sana ia mendapatkan seorang anak, yang kemudian menjadi seorang alim, yaitu Sayid Salim bin Hasan yang menjabat sebagai qadhi di Johor sebelum Perang Dunia 11 sampai wafatnya pada tahun 1955.

Di samping melakukan kegiatan-kegiatan kebajikan Islam, Sayid Hasan juga melakukan perdagangan. Ia mendirikan banyak bangunan secara terus menerus, hingga sekitar 20 bangunan. Pada tahun 1910 ia membangun dua rumah. Kemudian rumah itu dan segala yang berhubungan dengannya, ia serahkan kepada kesultanan, baik bangunan maupun tanahnya, untuk menjadi markas tentara kesultanan Johor. Ia juga meminjamkan rumahnya yang kedua kepada Sultan Johor selama 15 tahun tanpa imbalan. Bangunan itu dan tanahnya sekarang telah menjadi milik wakaf. Kini sedang didirikan bangunan dua belas tingkat untuk kepentingan wakaf.

Sayid Hasan membuka perkebunan yang luas di Johor. Di samping kegiatan-kegiatannya dalam bidang perdagangan, ia juga melakukan kegiatan pertambangan tembaga di Selangor, juga membuka pabrik kayu, percetakan dan penerbitan.

Sayid Hasan mengerahkan hidupnya untuk berdakwah dan mendirikan sekolah-sekolah dan pusat pendidikan tinggi Islam dan bahasa Arab pada tahun 1933, mendidik para pemuda, membimbing para penulis, para guru, dan para penerbit majalah, di antaranya adalah majalah Jasa.

Pada tahun 1923 Sayid Hasan menjadi ketua utusan para ulama dan cendikiawan dari negeri Melayu ke Mesir untuk menghadiri pemilihan khalifah Muslimin.

Proyek-proyek yang dibuatnya banyak, di antaranya membangun masjid, musola, dan sekolah, membuka kegiatan-kegiatan sosial, dan mengembangkan perkampungan Islam. Semua wakaf itu kini masih ada dan dipimpin oleh cucu-cucunya.

Harta yang diwakafkan olehnya di antaranya adalah rumah keluarga yang dipinjamkan kepada mahkamah sejak tahun 1900, tanah-tanah yang di atasnya terdapat bangunan-bangunan pemerintah dan kantor-kantor di pusat kota Johor. Semuanya diserahkan kepada Sultan Ibrahim. Juga sebidang tanah untuk rel kereta api di lereng gunung. Tanah itu dihadiahkan secara cuma-cuma. Juga sebidang tanah untuk membangun pemakaman. Sebidang tanah yang di atasnya terdapat sejumlah jalan dihibahkan oleh para pengurus wakaf pada 1932 kepada Pemerintah Johor pada masa Sultan Ibrahim. Di atas tanah itu terdapat tempat tinggal perdana menteri, sekolah-sekolah, pembangkit listrik, dan lain-lain. Sebidang tanah yang lain diambil oleh pemerintah pada tahun 1957 untuk sekolah. Sebidang tanah juga diberikan untuk kepentingan umum di Pahang sebagai hadiah, dan lain-lain.

Sedangkan harta milik wakaf di antaranya tanah sekolah Arab, sebidang tanah untuk membangun musola dan lain-lain, tempat-tempat tinggal untuk imam, muazin, dan para pegawai. Di atas tanah itu juga terdapat toko-toko dan rumah-rumah yang penghasilannya diberikan untuk madrasah Arab dan masjid. Sebidang tanah yang lain di atasnya terdapat toko-toko dan rumah-rumah yang penghasilannya digunakan untuk madrasah. Sebidang tanah digunakan untuk membangun musola dan lain-lain, sebidang tanah yang lain di atasnya terdapat rumah-rumah yang penghasilannya untuk madrasah, sebidang tanah yang lain lagi di atasnya terdapat rumah-rumah yang penghasilannya untuk kas kegiatan-kegiatan sosial, sebidang tanah lain penghasilannya untuk kepentingan Islam secara umum, dan sebidang tanah yang lain di atasnya terdapat Madrasah al-Aththas di Pahang. Juga terdapat dua rumah dan sebuah bangunan untuk istirahat para dai dan para pelajar di Singapura, dan sebuah asrama pelajar di Cairo, Mesir di dekat Universitas al-Azhar.

Pemerintah Johor menghargai usaha-usaha Sayid Hasan. Karena itu pada tahun 1926 Sultan Ibrahim bin Sultan Abu Bakar menganugerahkannya bintang tanda jasa tertinggi sebagai tanda cinta dan simpatinya. Sekarang terdapat sekitar 16 tempat yang memakai nama Sayid Hasan di Pahang, Johor, dan lain-lain.

Madrasah al-Aththasiyah di Johor dengan sistemnya yang modern dianggap sebagai madrasah resmi, bekerja sama dengan lembaga-lembaga resmi dan kantor urusan agama. Madrasah ini didirikan pada tahun 1332 H (1913 M). Pendidikan di sana diberikan secara cuma-cuma. Hanya saja orang yang mampu terkadang membayar 65 dolar Malaysia setiap bulan. Madrasah memberikan makanan kepada mereka yang tidak mampu. Lulusan sekolah ini dapat mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah tinggi dan perguruan-perguruan tinggi di Mesir dan sebagainya.

Pemasukan wakaf untuk biaya madrasah jumlahnya terbatas.

Karena itu madrasah bergantung kepada keluarga almarhum Sayid Hasan. Jumlahnya mencapai sekitar satu juta rial yang digunakan untuk kepentingan-kepentingan madrasah, asrama pelajar, dan lain-lain. Pengurus madrasah terdiri dari orang-orang yang dikenal di masyarakat. Kepala madrasah dan wakil badan wakaf adalah Sayid Ali bin Muhammad al-Aththtas.

Kutipan dari buku Islam di Malaysia halaman 98

Orang pertama yang mendirikan madrasah di Pahang adalah seorang wartawan dari Johor bernama Habib Hasan (Sayid Hasan). Madrasah ini memiliki hubungan dengan madrasah yang didirikan oleh Haji Umar bin Haji Abdullah. Haji Umar telah mengambil seorang lulusan madrasah alAththas di Johor, yaitu Haji Hasan bin Sanik untuk mengajar di madrasahnya. Madrasah ini kemudian mengalami kemunduran karena jumlah murid yang sedikit dan kemudian ditutup pada tahun 1914. Pada tahun 1920, Haji Umar bertemu dengan Habib Hasan. Lalu mereka bersepakat mendirikan madrasah yang baru. Haji Umar berusaha dengan hartanya dan Habib Hasan dengan bantuannya. Madrasah ini dipimpin oleh Haji Hasan bin Sanik dengan dibantu oleh dua orang lulusan madrasah al-Aththas di Johor. Habib Hasan membayar gaji para guru dari uangnya sendiri. Madrasah ini dianggap madrasah yang paling maju di Pahang.

Sayid Hadi bin Ahmad bin Hadi

Surat kabar Memorandum yang terbit diSurabaya pada edisi tanggal 25 Juni 1983 menyebutkan yang ringkasannya sebagai berikut:

"Seorang pejuang Hadi bin Ahmad telah wafat. Ia seorang tokoh Partai Arab Indonesia (PAI) dan seorang anggota Partai Nasional Indonesia. Ia terkenal dengan kedermawanannya dalam menyumbang masjid-masjid dan lembaga-lembaga sosial. Ia juga salah seorang pendiri masjid al-Mujahidin dan Yayasan Dakwah YAPI.

Karena dipandang sebagai salah seorang pejuang terkemuka, ia telah dianugerahi bintang jasa kemerdekaan sebanyak dua kali sebagai penghargaan atasnya. Ia juga telah mendapatkan penghargaan karena perjuangannya dalam perang revolusi kemerdekaan. Perjuangannya dimulai pada tahun 1945 sampai tahun 1957. Ia juga anggota tentara Indonesia sejak tahun 1957 dengan pangkat letnan dua.

la wafat di rumahnya dan disalatkan oleh orang banyak di masjid al-Mujahidin dan di masjid Ampel Surabaya. Jenazahnya diantar oleh ribuan orang dengan upacara militer yang dipimpin oleh Kapten Sukardi.

Sayid ini dikenal sebagai orang yang selalu menjalankan agama, menjaga kewajiban-kewajibannya, serta banyak bersedekah dan berinfak. Dr. Saleh al-Jufri menjelaskan apa yang ia ketahui mengenai segala aktifitas, kebaikan, dan kedermawanannya terhadap yayasan-yayasan Islam dan asrama-asrama pelajar. Ia meninggalkan empat orang putra dan dua orang putri."

Pendidikan

Ridwan Saidi dalam majalah Panji Masyarakat menulis artikel yang ringkasannya sebagai berikut:

"Pada tanggal 31 Desember 1799 berakhir peranan Serikat Perdagangan Belanda (VOC) dan pemerintah Belanda memegang urusan-urusan tanah jajahan dengan mengikuti sistem VOC dalam urusan-urusan pemerintahan dan lain-lain.

Pada tahun 1851 sekolah kedokteran swasta didirikan oleh pemerintah. Dalam laporan tahunan sekolah ini (1904-1905) terdapat nama-nama mahasiswanya antara tahun 1875 sampai tahun 1904. Sebagian besar mereka adalah dari kelurga para sultan, para pemimpin, para pejabat pemerintah, dan sebagainya. Jumlah mereka 743 mahasiswa dan yang lulus 160 orang.

Demikian juga keadaannya di sekolah pagawai-pegawai pemerintahan, sekolah-sekolah Belanda untuk pribumi, dan sekolah-sekolah untuk orang Belanda.

Pada masa itu pengajaran dan pendidikan milik kaum Muslimin."

Masjid-masjid Lama di Jakarta

Masjid Marunda

Di antara masjid-masjid lama yang dibangun oleh Syarif Hidayatullah di Jakarta sebagaimana uang diceritakan oleh para penduduk adalah Masjid Marunda. Konon, Kapten Tete Jonker, yang merupakan anggota, pasukan Belanda dan seorang Muslim yang berasal dari kepulauan Ambon menggunakan masjid ini sebagai markas di bawah kepemimpinannya untuk menghadapi tentara Belanda pada tahun 1683 sampai tahun 1689. Daerah ini merupakan pusat para pejuang dari Banten dan Jakarta. Masjid ini terletak di sebuah tempat di tepi laut yang sekarang dikelilingi air karena terjadinya erosi pantai.

Masjid Angke

Letak masjid ini adalah di Jalan Tubagus Angke dan dibangun pada tanggal 2 April 1716.

Masjid Tambora

Masjid ini terletak di dekat Kampung Jembatan Lima. Didirikan pada tahun 1181 H (1762 M). Yang membangunnya adalah orang-orang dari Pulau Sumbawa yang menjadi penduduk kampung itu. Mereka dibuang dari Pulau Sumbawa oleh penguasa Belanda. Di depan masjid ini terdapat makam para ulama, yaitu Kyai Mustajib dan Kyai Dating tahun 1247 H (1828 M).

Masjid al-Manshur

Terletak di Sawah Lio. Masjid ini dibangun pada tahun 1717 oleh Abdul Muhith, putra Pangeran Jayakarta. Pada perang Dunia II masjid ini diserang oleh tentara Belanda, karena seorang alim yang bernama Haji Muhammad Manshur menggunakannya sebagai markas perjuangan melawan penjajah. Bendera Indonesia dipasang di atas menara tempat azan. Akhirnya Haji Muhammad Manshur ditahan. Maka kemudian para penduduk menamakan masjid ini Masjid al-Manshur.

Masjid Pekojan

Masjid ini dibangun oleh Haji Abdul Mu'thi pada tahun 1735. Syarif al-Gadri, sultan Pontianak, memberikan hadiah berupa mimbar untuk masjid ini.

Masjid al-Anwar

Terletak di Kampung Rawa Bebek, Angke. Sudarsono, seorang pegawai bagian arkeologi mengatakan bahwa Dr. F. De Haan dalam bukunya Olde Batavia menyebutkan bahwa kampung ini pada mulanya tidak berpenduduk. Lalu para pejuang dari Banten menjadikannya sebagai markas perjuangan mereka melawan pemerintah serikat Belanda.

Masjid Kebon Jeruk

Masjid ini dibangun pada tahun 1786 oleh seorang Muslim Cina. Lalu diperbaharui oleh Sayid Husain bin Thahir bin Shahabuddin. Ia juga memperbaharui Masjid Salafiyah di Pulogadung yang didirikan tahun 1620.

Masjid al-'Atiq

Terletak di Kebon Baru, Cawang dan dibangun pada tahun 1630.

Masjid Luar Batang

Di dekat masjid ini dimakamkan seorang dai, yaitu Sayid Husain bin Abubakar al-Aydrus, yang wafat pada tahun 1768.

Para dai di Afrika Timur

Dalam kitab Haqa'iq Tarikhiyah 'An al-Arab wa al-Islam fi Afi-iqiya asy-Syarqiyah karya Sayid Muhammad bin Ahmad Masyhur al-Haddad disebutkan para dai di Afrika Timur. Berikut kami nukilkan nama-namanya:

Angkatan Pertama

Sayid Saleh bin Alwi Jamalullail serta putra-putranya Ahmad bin ldrus, Sayid Ahmad bin Abubakar bin Semith dan putranya Umar bin Ahmad bin Semith, Syaikh Umair Tajuddin asy-Syirazi, Syaikh al-Amin bin Ali al-Marzu'i, Syaikh Muhammad bin Abdullah Bakatsir, Sayid Umar bin Salim al-Aththtas, asy-Sya'ir al-Adib Muhammad bin Ali al-Umawi, Syaikh al-Islam Sayid Abdurrahman Assegaf, Sayid Abdullah Syah, Syaikh Ali bin Muhammad al-Khatib, Syaikh Sa'id bin Ahmad.

Angkatan Kedua

Sayid Ahmad bin Husein Aal asy-Syaikh, Syaikh Muhammad Basyir, Sayid Muhammad Husein al-Alawi, Syaikh Usman bin Ali al-Amudi, Syaikh Ali bin Umair, Sayid Muhdhar al-Mahdi, Sayid Hasan asy-Syathiri, Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Barik, Sayid Muhammad Adnan, Sayid Abul Hasan bin Ahmad Jamalulail, Syaikh Abdullah al-Khathib, Sayid Muhammad bin Abdurahman as-Segaf, Syaikh Lal Husein Akhthar, Syaikh Nu'man Basyaikh, Sayid Abdullah al-Baidh, Sayid Abdullah Haji Jum'ah Kenya an-Nubi, Haji Ramdhan Abyadh, Haji Khamis Sulaiman al-Balusyi, Sayid Ali bin Abubakar bin Ali Bilfaqih, Syaikh Khalfan, Syaikh Sulaiman, Syaikh Abdushamad, Sayid Muhammad bin Abdurahman al-Jufri, Syaikh Manshur al-Ja'li al-Abbasi, Syaikh Ahmad Khair al-Ja'li al-Abbasi, Yasin Hasan al-Ja'li. Di dalam kitab tentang kota Lamo disebutkan bahwa kota itu banyak diramaikan oleh keluarga Jamalulail dan keluarga Syaikh Abubakar bin Salim, dua kelompok Alawiyin yang datang sejak lama dari Hadhramaut. Kedua keluarga tersebut merupakan tujuan para penuntut ilmu yang dari berbagai pelosok Afrika Timur, Somalia dan Berawa.


1) R.O. Winstedt, The Malaya, A Cultural History, halaman 112.
2) Islam di Timur Jauh.
3) The Yemen, A Secret .... terjemahan Khairi Hammad di bawah judul "Bilad Al-Bukhur wal-Uthuf".
4) Al-Arab wal-Mallahah fi Al-Muhith At-Hindi, halaman 194.
5) Dairatul-Maarifjuz 11 halaman 352, cetakan Beirut 1958.
6) Surat kabar Al-Ahram 8/12/1955 di bawah judul Dzikrayaat min Asy-Syarq.
7) Hamka, Sejarah Umat Islam jilid IV, cetakan Jakarta 1976 halaman 35... apa yang disebutkan oleh Thomas Arnold dalam bukunya....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar